Connect with us
Photo: Google

Fiksi

Coffee…

Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok penolongku tadi. Darah mengucur dari mulutnya. Tubuh yang remuk turkulai lemah.

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Dia menatapku, lalu sebuah panggilan memintanya untuk meninggalkan tempat itu. Aku hanya terpana. Damar, sekarang kita bagai Nil dan Brantas. Sangat jauh jaraknya. Bubuk kopi sudah mengubah rasa secangkir teh yang sekian tahun kubuat dengannya.

Dulu, aku bahkan menganggapnya sebagai adik. Aku dan dia bagai sampul dan berlembar-lembar kertas yang memadu hingga suatu saat bisa menjadi buku best seller. Berkali-kali aku memberi penjelasan, dia tak lagi mempedulikanku. Akupun tak tahu dia percaya atau tidak. Yang jelas, aku dan dia tak dekat seperti dulu. Aku benci ini!!!

*
Coffee 1 …….Rinta……
“Farhan!! namanya Rinta.” Damar menghampiriku dan terlihat wajahnya berseri.
Aku menoleh tak mengerti. “Apa yang kau bicarakan Dam?”
“Anak baru itu namanya Rinta”.

Aku tersenyum dalam paksaan. “Kenapa kau masih saja penasaran dengannya? Kau sudah kuberi tahu tentangnya.” Aku menanggapi datar.

“Bukannya aku tak percaya Far. Tapi aku suka saja saat bertemu dengannya.”
“Hati-hati saja.”
“Ah, kau memang tak suka membicarakan perempuan. OK Ustadz!!” Dia menepuk pundakku dan meninggalkanku dengan masih tertawa-tawa.

Coffee 2 …….Ujian Semester Genap…..

“Ayolah Far… Tadi malam aku tak bisa ninggalin toko. Ayahku ke Malang, Ibuku sakit. Niatku sih, jaga toko sambil belajar, tapi aku juga ngrawat ibuku dan tak konsen belajar. Kau tau aku tak punya saudara. Setelah toko tutup, buku tak jadi kubuka. Aku pusing sekali dan tertidur. Kau tau kan, pagi ini badanku masih panas.”

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

Rasakan.... Setiap kejadian yang terjadi, pasti membawa hikmah...

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

To Top