Connect with us
Photo: Google

Fiksi

Coffee…

Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok penolongku tadi. Darah mengucur dari mulutnya. Tubuh yang remuk turkulai lemah.

2 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Aku diam sejenak. “Eng…Dam, kita sudah buat perjanjian, ulangan umum dan harian nggak boleh kerja sama. PR dan tugas OKlah… tapi ini aku tak bisa. Lagian kau tau sendiri kan? Aku nggak mau lagi contekan. Maaf Dam. Pliss…. Ngertiin aku.”

“Iya sih…Tapi sekali ini aja Far! Plis… darurat. Kasihanilah aku.”
Aku melihat wajah Damar yang memelas, aku tak tega. Aku tadi memegang dahi dan badannya memang panas.Tapi aku tetap tak mau.

“Kau kerjakan semampumu saja. Minta bantuan akan merugikanmu juga.”
“Itu menyulitkanku Far. Tambah pusing. Sebisanya nggak akan ketahuan deh…!”
“Bukan perkara itu. Di lorong bawah tanahpun aku tetap tak bisa. Maaf.” Aku meninggalkan Damar dua meter dengan tetap membawa diktat Bahasa Inggrisku.

Damar menghampiriku. ”Far, kau egois! aku kecewa ma kamu!” Lalu ia berlari.

Rongga dadaku tercekat. Sulit sekali aku menelan, bahkan sedikit air ludahpun. Aku memandang Damar dari kejauhan. Dia kecewa padaku. Mungkin dia nanti akan meminta bantuan ke teman lain. Maafkan aku sahabat.

Rapor Semester Genap.

“Dam.” Aku menepuk pundak Damar dari belakang.
“Gimana rapormu?” Aku berusaha tenang.

Brakkk!!!! Sebuah novel cukup tebal mengagetkanku. Damar membantingnya di meja kami. “Kau menang!!” Astaghfirullah. Aku sempat terhenyak dengan teriakan dan matanya yang memandangku tajam. Tapi aku mencoba tenang.

“Menang apa Dam? Aku nggak nger……”
“Kau bisa ke bahasa kan?? Aku ditempatkan di IPA. Bahasa Inggrisku kurang… Kau tak mau membantuku saat itu!!!”
“Aku…. Maafkan aku…. Kau di IPA nanti bisa jadi …….”
“Itu bukan cita-citaku Far!!!”
“Tenang Dam, kau nanti kuliah bisa mengambil bahasa. Ini yang terbaik buatmu.

Bukankah ini kata-kata yang kau suka? ‘Apa yang baik bagimu belum tentu baik di mata Allah, Apa yang buruk bagimu belum tentu buruk di mata Allah’. Bukankah kau sangat menyukai kalimat itu?” Aku merangkul pundak Damar.

Damar diam. Emosinya mulai mereda. Ia menerawang birunya langit pagi itu.

“Aku ingin jadi penerjemah Far.”
“Kau bisa serius berbahasa meskipun di IPA. Kau nanti bisa mengambil bahasa saat kuliah. Percayalah ini terbaik buatmu.” Aku mencoba menghiburnya.
“Bukan itu saja.”
“Lalu apa lagi?”
“Aku nggak akan sebangku sama kamu lagi. Sekelaspun nggak. Ahhh…!!!” Dia menggebrak meja lagi. Kali ini dengan kepalan tangannya.
“Hei, udahlah!! Kelas IPA sama Bahasa deket. Rumah kita nggak ada dua kilo. Kita bisa main lagi kok. Senyum Bro!!!”

Dia hanya tersenyum kecil menanggapiku.

Back to Rinta……..

Aku turun dari mobil bersama Rinta. Hari ini aku terpaksa diantar Ayahku. Aku belum begitu pulih dari sakit. Aku memasuki halaman sekolah bersama Rinta. Rinta itu….

Belum sempat kulangkahkan kakiku memasuki kelasku, XI Bahasa 1, terdengar suara tak begitu asing memanggilku. Aku menoleh dan tersenyum.

“Hei Dam? Ntar jadi nonton Star Wars bareng kan? Tiga kali di TV lho!!”
Raut muka Damar berbeda. Itu yang kedua kali setelah dia marah padaku dulu.
“Far!! Apa sih maumu?!”
Aku tak mengerti maksudnya. Mulutku hanya ternganga tak percaya. “Apanya?”
“Rinta!! Kau bilang aku tak boleh mendekatinya. Kau bilang dia sudah punya pacar, Kau yang sudah berhenti membicarakan perempuan. Tapi apa tadi?!! Rinta ke sekolah naik mobilmu sama kamu.”

2 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

Rasakan.... Setiap kejadian yang terjadi, pasti membawa hikmah...

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

To Top