Connect with us
Photo from guoguiyan.com

Fiksi

F A N I S A

Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata menunjukkan hawa pantai yang mulai panas. Namun semua itu tak kelihatan karena ada Anis.

2 of 6
Use your ← → (arrow) keys to browse

Aku dan Dendy dipersilakan memasuki rumah kecil itu. Seorang Bapak setengah baya dengan gadis kecil berambut lurus dikuncir dua. Gadis kecil tujuh tahun itu memanggilku Kakak, lebih tepatnya Kak Rani. Begitu juga dengan Dendy.

“Wah, ini tadi dari mana ya, mbak Rani dan mbak Dendy? Ada angin apa mampir sini? Repot-repot bawa ini juga…..” Bapak Rani yang biasa dipanggil Pak Tino itu menerima satu kresek yang berisi ayam panggang dan apel dariku serta satu kotak kue dari Dendy.

Aku tersenyum. “Saya memang ingin silaturahmi ke sini Pak. Sudah lama nggak ketemu sama si Anis.” Aku menoleh ke arah gadis kecil yang sedang memainkan bros jilbabku yang bergambar kura-kura itu. “Tadi saya ke rumah Dendy dulu, lalu kami berangkat dari sana.”

“Iya Pak kami pingin main ke sini. Saya sudah lama nggak main-main ke pantai. Berbeda dengan masih kecil dulu, Ayah sering mengajakku ke pantai. Sekarang sudah gede sih… Sudah nggak jamannya lagi main-main seperti dulu.” Kata-kata Dendy berhenti setelah lengannya disikut olehku. Memang kalau dia terlanjur cerita, sampai berjam-jam pun dia betah. Kami berempat melepas rindu di ruang tamu kecil itu. Pak Tino memberi kami es kelapa muda.

Semua itu mengingatkanku pada pertemuan pertama kaliku dengan keluarga kecil itu. Keluarga yang hanya terdiri dari Bapak dan seorang anak gadis kecil. Saat itu aku yang sedang KKN (Kuliah Kerja Nyata) di semester tiga di Pantai itu juga. Aku berkenalan dengan Pak Tino itu yang menjual Es Kelapa muda dengan anak gadis kecilnya, Anis.

Ibunya sudah meninggal saat beberapa bulan sesedah kelahiran Anis. Aku sempat memberikan gantungan boneka kecil pada Anis sebagai kenang-kenangan dariku. Kukira itu pertemuan pertama sekaligus terakhirku dengan mereka. Namun di saat awal semester tujuh, KKNku, aku juga di sana. Malahan selama satu bulan. Jadi di saat usia Anis hampir tujuh tahun itu, aku mengenalnya lebih dekat. Aku malah mulai menganggapnya sebagai adik karena aku anak tunggal. Dia juga tak memiliki saudara, sepupu juga tak punya. Almarhumah Ibunya anak tunggal. Pak Tino sebenarnya memiliki dua kakak, namun mereka juga telah tiada. Saudara jauh punya tetapi rumahnya sangat jauh dari mereka.

***

2 of 6
Use your ← → (arrow) keys to browse

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

Rasakan.... Setiap kejadian yang terjadi, pasti membawa hikmah...

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top