Connect with us

Karena Miskin, Sebatang Rokokpun Tak Boleh Aku Pandang

Photo : edunews.id

Opini

Karena Miskin, Sebatang Rokokpun Tak Boleh Aku Pandang

Karena Miskin, Sebatang Rokokpun Tak Boleh Aku Pandang

Sedari dulu aku sudah paham bahwa kemiskinan mengantarkanku pada kesengsaraan. Sengsara yang membawa pada keluhan bertumpuk keluhan. Menyesal, kenapa tidak kaya raya saja dulu aku ditakdirkan?

Jika aku kaya, mungkin tak memelas merana seperti ini kondisinya. Dandanan necis, kumis tipis, diimbangi minyak rambut yang buat aku makin manis. Ah sempurnalah hidup, bahagialah rangkaian cerita dunia. Mau apa selalu ada, ingin ke mana selalu bisa. Itulah jika aku dari dulu ditakdirkan jadi kaya. Tapi tidak juga, orang kaya kadang tak tenang hatinya. Ke sini ke sana selalu ada hal berat yang ada di pikirannya, tak mengertilah itu apa, yang kutahu orang kaya selalu banyak enaknya, itu saja.

Sebagai seorang miskin, aku hanya punya hak untuk membuka mata, menikmati pagi hari di atas dipan serambi rumah tua sambil ngopi. Iya, hanya secangkir kopi untuk pagi hari, pagi ini hingga pagi-pagi nanti. Tanpa rokok, tanpa asap-asap yang bersahabat dengan kemelaratan. Bukan sudah sempurna dengan ngopi saja. Tapi aku sedang belajar, mengajari lidah untuk tirakat karena keterbatasan. Negara tempat aku berkewarganegaraan tengah menyusun satu kebijakan, menaikkan sekian kali lipat harga rokok yang aku bilang sahabat kemelaratan. Aku ajarkan padanya, bertahap untuk mencoba melupakan rasa sambil terus aku doktrinkan padanya, “Rokok hanya boleh dirasa oleh mereka yang kaya”. Jangankan merasa, tampaknya memandangnya saja tak diperbolehkan untuk orang miskin sepertiku dan orang-orang kalanganku.

Tapi aku juga belajar berbaik sangka, mengajak logika berdialog hingga ia lega menerima. Juga menyertakan harapan diiringi doa, semoga kebijakan menaikkan harga rokok itu bukan lagi pepesan pesanan. Yang dipesan orang-orang berkepentingan. Harganya dibuat melangit semoga sebagai sarana i’tikad baik, bukan mencari brankas duit tapi mencegah kami biar tidak sakit.

Sambil terus bergumam, alangkah bahagianya jika aku jadi orang kaya, yang mau apa selalu ada, yang ingin ke mana selalu bisa.

Continue Reading
Advertisement

Kamu bukanlah Tuhan. Di mana penamu belum terangkat, tintamu belum kering, di sanalah suara hidup harus kamu bahasakan. Karena tinta dan pena adalah bahasa.

Click to comment

More in Opini

To Top