Connect with us

Membenci Tak Semudah Nyuci Kaos Kaki

Foto by Erna

Edukasi

Membenci Tak Semudah Nyuci Kaos Kaki

Kalau seorang sudah kita benci, maka kebaikan yang ia lakukan seolah tertutup dan langsung hilang. Karena tertutup mata kebencian kita. Sedang keburukan yang ia lakukan semakin meninggikan derajat kebencian kita. Membenci itu menyakitkan, jiwa pun raga. Semua.

Siapa bilang nyuci kaos kaki itu gampang? Susah. Apalagi kaos kaki yang terlanjur kotor, detergen standar pun tidak memuaskan. Tapi ada kiatnya, basahi kaos kaki – oleskan sabun mandi batang pada bagian yang kotor – diamkan beberapa saat dan gosok.

Oh iya, di tulisan ini kita tidak akan fokus kaos kaki tapi tentang membenci. Membenci yang tidak pernah semudah nyuci kaos kaki. Sesusah apapun tetep ada kiat untuk membersihkan nodanya yang melekat. Tapi tentang benci, formulasi seperti apapun terasa sangat nihil untuk menyudahi. Selalu saja ada sebab yang mengakibatkan benci dan membenci menjadi ritual berkesinambungan dan tidak berkesudahan. Selalu ada perihal (prasangka ataupun nyata) yang menjadi pemupuk kebencian.

Kalau seorang sudah kita benci, maka kebaikan yang ia lakukan seolah tertutup dan langsung hilang. Karena tertutup mata kebencian kita. Sedang keburukan yang ia lakukan semakin meninggikan derajat kebencian kita. Membenci itu menyakitkan, jiwa pun raga. Semua.

Adalah memang benci itu bukan perkara yang murni kita kehendaki. Setiap kepala tentu saja punya alasan yang menyebab kenapa ia harus benci dan menjadi benci. Menjadi pokok untuk mengusut perkara ‘ada dasar utama membenci” menjadi entry point kita untuk masuk ke pembersihan hati. Berlanjut pada analisa lain hingga ditemukanlah akar dari penyebab lahirnya kebencian.

Setelah ketemu, formulasi terampuh untuk menyembuhkan kebencian adalah dengan mengubur dan melupakan. Ganti dengan mengingat – mengenang jasa kebaikan serta pertebal hati dengan taat dan kepatuhan seorang makhluk pada penciptanya. Hingga hati benar-benar fitri. Kalau sudah kayak gini, yang diingat – Jangan suka benci-benci lagi, karena membenci gak semudah nyuci kaos kaki.

Erna, 11 September 2017

Continue Reading

Kamu bukanlah Tuhan. Di mana penamu belum terangkat, tintamu belum kering, di sanalah suara hidup harus kamu bahasakan. Karena tinta dan pena adalah bahasa.

Click to comment

More in Edukasi

To Top