Connect with us
Images : IG/OKKESEPATUMERAH

Edukasi

Mompetition

Percayalah, Bunda. Ananda kita tidak akan merasa nyaman melalui masa-masa tumbuh kembang dalam pola perbandingan. Biarkan ia tumbuh-berkembang melalui proses alaminya, biarkan ia berproses dengan mengacu pada garis standar kenormalan yang ada (bukan melalui perbandingan)

Bunda, cung dong siapa yang gak pernah menjadikan perkembangan anak orang lain sebagai indikator mengukur perkembangan anak sendiri. Saya sendiri tidak berani mengangkat tangan. Pernah sesekali waktu bahkan sering tegur sapa dengan teman yang punya baby seusia lantas menanyakan “sudah bisa apa?”, dan pertanyaan asesmen lainnya.

Dan padahal, setelah memperoleh jawaban sang Bunda tersebut akan berpikir panjang. Berangan angan, menyusun sebab musabab sampai paling tragisnya membandingkan anak teman/orang lain dengan anaknya. “Dia sudah bisa ini, kok anak saya belum ya?”, “Duh, dia yang usianya lebih muda sudah hampir bisa ini, anakku belum juga.” dan lainnya dan sebagainya.

Sampun ya bunda, sudah. Jangan teruskan kegalauan karena perbandingan ini. Tumbuh kembang anak kita bukan ajang pertandingan para Bunda-bundanya, ini bukan Mompetition. Masing-masing dari individu memiliki perbedaan dan bawaan serta kecakapan masing-masing. Perlu menjadi catatan juga bahwa yang cepat perkembangan motoriknya (semisal lebih cepat merangkak, lebih cepat duduk, lebih cepat jalan dan sebagainya) belum tentu akan memiliki IQ, emosional, psikomotorik yang lebih bagus daripada yang agak lebih lambat proses perkembangannya.

Kembali pada kebiasaan membandingkan anak seperti demikian, jika dipelihara maka kebiasaan itu akan keterusan, Bund. Berawal dari ia di masa balita sudah terbiasa kita bandingkan tentang tumbuh kembangnya, kelak saat ia sudah mengenyam bangku sekolah, naluri kita untuk membandingkan ia dengan teman-teman sekolahnya akan terus berlanjut. Membandingkan tentang prestasi akademik, dan sebagainya.

Ujungnya yang menjadi korban adalah anak kita Bunda. Anak dipaksa untuk seperti ini-seperti itu agar tidak tertinggal jauh oleh teman-temannya, agar anak bisa mengejar prestasi temannya. Yang padahal, masing-masing dari anak kita punya potensi yang berbeda. Bisa jadi ia tak pandai di akademik, tapi ternyata ia jago di bidang non-akademik.

Percayalah, Bunda. Ananda kita tidak akan merasa nyaman melalui masa-masa tumbuh kembang dalam pola perbandingan. Biarkan ia tumbuh-berkembang melalui proses alaminya, biarkan ia berproses dengan mengacu pada garis standar kenormalan yang ada (bukan melalui perbandingan). Selebihnya dampingi dia untuk bereksplorasi.

Continue Reading

Kamu bukanlah Tuhan. Di mana penamu belum terangkat, tintamu belum kering, di sanalah suara hidup harus kamu bahasakan. Karena tinta dan pena adalah bahasa.

Click to comment

More in Edukasi

To Top