Connect with us

Penjual Cemue Legendaris Diserbu Pembeli

Photo - Friliya

Kehidupan

Penjual Cemue Legendaris Diserbu Pembeli

Mak Kar berdagang Wedang Cemue sejak tahun 1987 dan masih bertahan hingga kini. Penjual Cemue legendaries tersebut langsung diserbu pembeli saat buka lapak di acara jalan sehat kemarin. Mungkin rasa rindu masyarakat akan cita rasa minuman manis gurih tersebut membuat dagangan Mak Kar laris manis. Kewalahan melayani pembeli, Mbak Yatmi anak Mak Kar turun tangan membantu ibunya.

Wanita paruh baya sibuk meracik minuman, hampir tak terlihat karena kerumunan warga yang mengantri membeli minuman tersebut. Gerobak gendong yang khas, berwarna kuning, merah mudan dan bertuliskan Cemue. Gerobak itu akrab di mata saya sejak masih dibangku taman kanak-kanak (TK).

Sangat disayangkan minuman harga merakyat, rasa enak, kuliner khas Ngawi yang satu ini sudah jarang ditemui.Wedang Cemue/ Cemoe, wedang yang berarti minuman hangat, Cemue adalah minuman berbahan sederhana, roti tawar yang sudah dipotong dadu, kacang kelici kemudian diguyur santan hangat dan ditaburi bawang merah goreng. Rasa manis dari santan ditambah gurih dari taburan bawang sangat cocok untuk lidah terutama masyarakat Ngawi.minuman ini sangat nikmat disajikan hangat, entah bagaimana rasanya bila disajikan dengan es. Meski jarang ditemui bukan berarti cemue hilang ditelan masa. Toh buktinya pada sabtu (26/8/17) kemarin masih ditemukan penjual cemue di lapangan.

Desa Kedung Prahu, Padas, Ngawi dalam acara Jalan sehat. Masih dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI). Mungkin beliau satu-satunya penjual cemue yang masih bertahan di Desa Kedung Prahu. Mak Kar mengaku, panggilan akrab sapaan akrab Karsyem, dulu di Desa Kedung Prahu ada 3 penjual Wedang Cemue termasuk dirinya, namun dua diantaranya memutuskan beralih berjualan tepo kecap. Tepo kecappun juga termasuk kuliner khas Ngawi, masih banyak pedagang yang menjual makanan tersebut tidak seperti Cemue yang sudah menjadi kuliner langka.

Cemue Mak Kar – Photo by Friliya

Mak Kar berdagang Wedang Cemue sejak tahun 1987 dan masih bertahan hingga kini. Penjual Cemue legendaries tersebut langsung diserbu pembeli saat buka lapak di acara jalan sehat kemarin. Mungkin rasa rindu masyarakat akan cita rasa minuman manis gurih tersebut membuat dagangan Mak Kar laris manis. Kewalahan melayani pembeli, Mbak Yatmi anak Mak Kar turun tangan membantu ibunya.

Mak Kar juga mengaku nantinya Mbak Yat yang meneruskan usaha Cemue beliau. Satu mangkuk cemue dihargai 3000 rupiah saja. Tahun 1987 harga cemue masih 500 rupiah dan kini menjadi 3000 masih dalam taraf terjangkau kalau kata saya. Tidak setiap hari Mak Kar berjualan Cemue, hanya bila ada acara tertentu saja. Seperti acara jalan sehat kemarin, pasar malam, atau kalau pas ada kondangan saja. Menjadi penjual cemue legendaries yang masih bertahan hingga kini, tentu saja banyak suka duka yang dilewati Mak Kar.

“Kita jual cemue gak ada atepnya, pernah kehujanan padahal dagangan masih banyak” ungkap Mak Kar sambil menyajikan cemue untuk pembeli. Memang dari dulu sampai sekarang Mak Kar belum punya kios untuk berjualan, masih dengan gerobak pikul buatan suaminya.

Cemue Mak Kar – Photo by Friliya

Kemarin adalah puncak pesta rakyat desa Kedung Prahu, Mak Kar berjualan Cemue dari pagi hingga sore. Jaman dahulu minuman hangat ini disajikan malam hari untuk sekedar berkumpul dengan keluarga atau menjamu tamu. Namun bukan berarti cemue tidak cocok dihidangkan siang hari. Nampang kemarin siang Mak Kar juga masih meracik cemue untuk pembeli. Wedang Ronde dan Wedag Angsle hamper serupa dengan Wedang Cemue, namun wedang cemuelah yang menjadi kuliner khas Ngawi, patut kita banggakan dan pertahankan agar tidak lantas ditelan jaman. Saya berharap ke depannya Mak Kar bisa punya kios jadi tidak harus menunggu ada acara tertentu untuk menemukan lapak beliau.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Kehidupan

To Top