Connect with us

Pesta Rakyat Ala Desa Kedungprahu

Photo by Friliya

Budaya

Pesta Rakyat Ala Desa Kedungprahu

Semua warga berduyun duyun kumpul di lapangan desa Kedungprahu. Jalan sehat dimulai pukul 06.30 WIB rute mengelilingi desa Kedungprahu. Diiringi oleh musik drumband dari MTs GUPPI Padas para warga yang mengikuti jalan sehat makin bersemangat.

Bulan kemerdekaan hampir berakhir, namun pesta rakyat ala Desa Kedungprahu, Padas, Ngawi baru dimulai. Bila lomba diadakan tiap dusun, kali ini adalah puncak acaranya. Lomba masih digelar, tentunya dengan hadiah yang lebih besar. Gelaran pesta rakyat dimulai pada sabtu pagi (26/8/17) dengan jalan sehat.

Semua warga berduyun duyun kumpul di lapangan desa Kedungprahu. Jalan sehat dimulai pukul 06.30 WIB rute mengelilingi desa Kedungprahu. Diiringi oleh musik drumband dari MTs GUPPI Padas para warga yang mengikuti jalan sehat makin bersemangat. Ada sekitar 300 orang yang mengikuti jalan sehat, memperebutkan hadiah utama kulkas. Sangat jarang ditemui pemadangan seperti ini, warga desa berkumpul dan jalan beriringan.

Sepanjang jalan grup drumband terus memainkan musiknya tanpa jeda. ditengah perjalanan rombongan peserta meyerahkan nomor undian kepada panitia yang berjaga untuk selanjutnya diundi saat sampai finish. Hampir tidak ada peserta jalan sehat yang memotong jalan. Semua menikmati berjalan kaki meski jauh, sesekali mereka ngobrol dengan warga lain hingga tak terasa sampai finish. Sudah banyak pedagang yang membuka lapak di lapangan desa Kedungprahu menjajakan dagangan, mulai dari es, makanan ringan, nasi, tepo kecap, pentol (cilok) dan Wedang Cemue. Karena kebanyakan para peserta jalan sehat belum sarapan, maka mereka langsung menyerbu jajanan yang ada sembari menunguu pengundian. Dihibur pula oleh musik dangdut.

Penampilan Reog – Photo by Friliya

Ada sebagian warga yang asik berjoget ada yang sekadar menikmati lagu dangdut di tepi lapangan sekalian berteduh. Ada satu yang menyita perhatina, panitia memboyong penjual Dawet pikul ke atas panggung, membeli semua dagangan Dawet yang dibawa untuk dibagikan gratis kepada warga yang hadir saat itu. Bapak penjual dawet itupun kewalahan meladeni warga yang mengerumuninya.

Tidak hanya membagikan hadiah, panitia membuka kesempatan bagi siapa saja warga yang berani bernyanyi di atas panggung aka diberi uang senilai 50.000 rupiah. Ada beberapa anak SD yang berani unjuk gigi bernyanyi ada juga ibu-ibu. Semakin meriah kala pengundian hadiah, hingga hadiah utama diserahkan.

Pesta rakyat akan terus berlajut hingga malam. Setelah acara jalan sehat selanjutnya dimeriahkan dengan pagelaran Reog Ponorogo dan lomba-lomba. Seusai lomba jalan sehat, warga pulang sejenak untuk sekedar beristirahat dan membersihkan diri sebelum pagelaran Reog bakda dhuhur.

Kemeriahan warga kembali terlihat kala rombongan reog datang. Kesenian yang berasal dari Ponorogo ini tak hanya bisa dinikmati warga Ponorogo saja, sudah tersebar di seluruh nusantara hingga warga desa Kedungprahupun bisa menyaksikan kesenian ini. Pertunjukan seni reog mulai ada di Ponorogo sejak tahun 1920, terdiri 6-8 penari laki-laki dan 2 penari wanita. Yang paling ditunggu adalah 2 penari singa barong, memakai topeng kepala singa bermahkotakan bulu merak, berat topeng tersebut mencapai 50-60kg. Topeng seberat itu dipakai dengan cara digigit, butuh keahlian khusus untuk bisa menari dengan topeng singa barong, konon penari topeng snga barong harus berpuasa dan menjalankan amalan lainnya.

Sebelum kedua penari singa barong beraksi, kesenian Reog dibuka oleh 2 penari wanita yang berdadan cantik. Yang membuat pertunjukan ini semakin seru, bapak kepala desa, sekretaris desa, serta perangkat desa lainya turut andil menari menggunakan topeng Ganongan.

Dan masih ada beberapa lomba, yang juga menarik adalah lomba tinju dengan mata tertutup. Tak berniat salah meluncurkan pukulan, namun salah satu peserta lomba tersebut tanpa sengaja memukul kepala desa yang bertugas sebagai wasit. Justru hal itu memicu tawa dari para penonton. Semua hanya untuk keseruan tidak berniat mengadu. Juga masih ada lomba Panjat pinang yang salah satu hadiahnya adalah handphone.

Panjat Pinang – Photo by Friliya

Nampak dua bendera raksasa berukuran 3×6 meter di samping pinang. Bendera raksasa tersebut sengaja dipasang di tengah lapangan oleh panitia sebagai wujud cinta tanah air. Pertunjukan Reog dan lomba-lomba berlangsung hingga sore hari dan masih belum berakhir, malam harinya digelar acara paggung gembira. Siswa-siswi SD-SMP menunjukan kebolehannya. Semua tumpah ruah menyaksikan pentas para siswa dan penampil lainnya hingga larut malam.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Budaya

To Top