Connect with us
Photo from i.ytimg.com

Fiksi

Sang Kupu-kupu

Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan pegangan tangan ibunya.

Prev1 of 6
Use your ← → (arrow) keys to browse

Hawa dingin langsusng menusuk tulang malam itu. Seorang wanita paruh baya ditemani anak perempuannya menghampiri kerumunan orang di depan Pasar Legi. Tak nampak ricuh hanya orang-orang tersebut saling adu debat, entah apa yang mereka debatkan. Semakin mempercepat langkahnya, wanita paruh baya berwajah sendu itu, memegang erat tangan anaknya. Sedang si anak jauh lebih tenang dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Bibir wanita paruh baya terus komat kamit gemetar, entah apa yang ia ucapkan. Sesampainya di kerumunan, sigap tanganya membelah kerumunan, memastikan kabar yang diterimanya lewat telpon tersebut benar.

Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan pegangan tangan ibunya. Membiarkan ibunya berlutut dan membuka kain yang menutupi mayat tersebut. Wajah sang anak masih tenang, berdiri diantara orang-orang yang mengerumini mayat tersebut.

“Pak Jo buk, dikeroyok preman tadi, sabar ya buk!” nada lembut Sekar yang menghampiri si wanita paruh baya. Sekar salah satu pedagang di Pasar Legi bukan sayur atau makanan yang ia jajakan, melainkan harga diri. Seketika tangis wanita paruh baya itu pecah. Si anak yang berdiri tadi hanya terlihat meneteskan air mata tanpa ekspresi, Nur Laila anak Mak Lastri yang masih duduk di bangku SMA kelas 2. Sekar si kupu-kupu malam memeluk Mak Lastri erat. Mayat suami mak Lastri kembali ditutupi kain, nampak darah masih menetes dari kepalanya. Jaket tebal berwarna merah sudah koyak akibat bacokan.

Nur Laila seharusnya menjadi gadis belia yang punya banyak teman. Namun hampir tak satupun teman yang pernah mampir ke rumahnya. Dia pendiam, kadang pemarah kalau ada sedikit hal kecil yang tidak ia sukai. Mak Lastri berjualan botok, gorengan, dan lauk keliling. Bukan menjual dagangan keliling dengan gerobak, hanya dengan tas anyaman Mak Lastri menjajakannya. Pak Jo pengangguran, dulu
sempat kerja di kantor koperasi namun dipecat, tak lantas berusaha cari kerja Pak Jo memilih berjudi dan main wanita.
***

Prev1 of 6
Use your ← → (arrow) keys to browse

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top