Connect with us

Santri Insurrection, Refleksi Perlawanan Santri Negeri

Photo - FB Chairul Anam

Opini

Santri Insurrection, Refleksi Perlawanan Santri Negeri

Indonesia bukanlah tatanan negara sekuler, yang memisahkan mana Tuhan dan mana kekuasaan. Indonesia adalah negara beketuhanan, negara yang butuh keteladanan, panutan dan seruan-seruan pembaharuan.

Sejarah tidak sepenuhnya mengemukakan bahwa andil besar perlawanan terhadap penjajah di NKRI diandilperankan oleh ulama dan santri. Namun fakta tidaklah dapat disembunyikan jika keberanian untuk mencari tahu dan memperdalam ilmu tetap ditunaikan. Kebenaran akan kembali pada jalan benarnya, akan berada pada fakta kejujurannya.

Ahmad Mansur Suryanegara (2013) mengemukakan saat kedatangan Imperialis Barat, Kerajaan Katolik Portugis di 1511 M dan Kerajaan Protestan Belanda di 1619 M mencoba menguasai Indonesia, selalu dihadang oleh Ulama dan santri Indonesia. Hingga sejarawan Barat, menyebutnya dengan Santri Insurrection -Perlawanan Santri-. Perlawanan tidak dilakukan oleh kekuasaan politik Boedhha Sriwidjaja dan Hindoe Madjapahit, karena kala kedatangan dua imperialis barat, kedua kekuasaan tersebut telah tiada.

Hal tersebut hanya satu cuplikan andil peran santri dalam perjuangan melawan penjajah, kemudian dilengkapi dengan perjuangan merebut kemerdekaan, usaha-usaha keras meletakkan batu bata pembangunan negeri dan sambungan kerja dan kontribusi para ulama dan santri untuk negeri ini.

Rangkaian kontribusi seperti tersampaikan di atas bukanlah sebuah warisan yang hanya diperuntukkan bagi kebanggaan dan kenang-kenangan. Tekad dan semangat para ulama dan santri pendahulu dalam menyumbangkan bulir keringat peluh hingga tetes darah tubuh menuntut kesadaran dan kebangkitan semangat para pewaris sejarah. Pewaris yang dibebankan untuk dapat melanjutkan kiprah juang kontribusi pada negeri. Tidak lagi dengan menyumbang nyawa untuk merebut status merdeka. Namun dengan ketinggian ilmu, kesantunan pekerti, ketajaman analisa dan ketaatan ruhiyah pada pencipta, memberikan dorongan semangat baru kepada para ulama dan santri untuk senantiasa memberikan kontribusi dan pengendali pada negeri.

Indonesia bukanlah tatanan negara sekuler, yang memisahkan mana Tuhan dan mana kekuasaan. Indonesia adalah negara beketuhanan, negara yang butuh keteladanan, panutan dan seruan-seruan pembaharuan. Selamat hari santri, mari berefleksi untuk Indonesia yang lebih terberkati.

Santri Insurrection, Refleksi Perlawanan Santri Negeri

Diterbitkan juga di KampoengNgawi.com

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

Kamu bukanlah Tuhan. Di mana penamu belum terangkat, tintamu belum kering, di sanalah suara hidup harus kamu bahasakan. Karena tinta dan pena adalah bahasa.

Click to comment

More in Opini

To Top