Connect with us

Teater Magnit Rayakan Hari Jadi dengan Tumpengan dan Malam Refleksi

Photo - Humas Teater Magnit

Budaya

Teater Magnit Rayakan Hari Jadi dengan Tumpengan dan Malam Refleksi

“Dulu sebenarnya yang memberi nama Magnit itu bukan saya. Dan makna Magnit itu juga bukan magnit yang bisa saling tarik menarik, tapi “Mak Nit” yang artinya kecil.” cerita beliau.

Hari jadi (red. Ulang tahun) bagi sebagian orang bisa saja dimaknai dengan pesta yang meriah dan hadiah melimpah ruah. Namun “Pak’e” begitu sahabat-sahabat teater menyebut Kusprihyanto Namma, seorang sastrawan sekaligus pendiri teater Magnit, hanya mengajak anak didiknya untuk syukuran dengan cara sederhana.

Selasa (22/08/2017) bertempat di kediaman Pak’e sebuah acara sederhana digelar bersama para anggota teater magnit. Acara peringatan hari jadi tersebut hanya diisi dengan doa dan pemotongan tumpeng, serta dilanjutkan dengan malam refleksi. Tidak ada pesta namun sarat akan nilai dan makna.

Sebagai pembuka acara refleksi, Pak’e tampil dengan kisah perjuangannya mendirikan berbagai teater di Solo hingga mendirikan teater Magnit di Ngawi.

“Dulu sebenarnya yang memberi nama Magnit itu bukan saya. Dan makna Magnit itu juga bukan magnit yang bisa saling tarik menarik, tapi “Mak Nit” yang artinya kecil.” cerita beliau.

Kata tersebut dipilih memang karena keanggotaan teater pada awal berdirinya hanya diikuti sedikit orang. Seiring berjalannya waktu, bahkan banyak sastrawan termasuk salah satunya adalah Wiji Thukul , berkunjung ke Ngawi hanya karena ingin mendapatkan pengakuan sudah pernah membacakan puisi di teater Magnit.

Refleksi berlanjutkan oleh anak-anak Pak’e. Terlihat nilai-nilai kehidupan sudah berhasil di tanamkan didiri anak-anaknya oleh Pak’e. Banyak yang berterimakasih atas model “pengasuhan” yang telah dilakukan Pak’e. Seperti gemblengan yang mampu membentuk karekater anak-anaknya, “mengadopsi” anak-anak bermasalah di sekolah sehingga bisa menemukan passionnya, serta yang paling penting adalah adannya tradisi khataman Al Quran dan wiridan yang dilaksanakan setiap pekan.

Bagi suatu organisasi yang bisa bertahan hingga 24 tahun pastilah mengalami pasang surut di dalamnya. Teater Magnitpun sempat vakum karena ada beberapa kendala. Namun atas kesolidan yang mampu terbentuk kembali, gaung teater ini sekarang mulai kembali seperti masa awal mula pendiriannya.

Malam refleksi di akhiri dengan sebuah doa yang singkat namun mengena bagi segenap anggota yang hadir. Besar harapan sahabat-sahabat agar teater Magnit mampu berjaya kembali, tetap solid, dan mampu menjadi wadah anak muda Ngawi untuk menggelorakan rasa cinta tanah air.

Ditulis oleh Menur

Menulis adalah seperti meminum cemue, sruput enak dan bisa mengenakkan. Kreasi tiada henti dengan tulisan yang penuh inspirasi.

Click to comment

More in Budaya

To Top