Connect with us
Bangku Kosong. Foto-Kumpar

Fiksi

Bangku Kosong

Ana kembali menangis menundukan kepala, Putra masih gemetar ketakutan dan mematung di samping Ana dan Candra. Tangan Candra pun masih menggandeng tangan Putra, lalu Candra menarik tangan kanan Ana.

Sudut sebuah kelas Sekolah Dasar di Ngawi nampak berbeda. Meski perbedaan tak begitu berdampak pada ke-22 murid kelas tersebut. Hanya satu siswi yang murung, melihat ke arah bangku kosong sudut kelas. Dulunya bangku kosong itu ditempati Candra, anak pindahan desa sebelah. Candra bukanlah teman dekat siswi yang akrab dipanggil Ana tersebut. Hanya saja Ana lebih tak suka dengan teman-teman sekelasnya yang lain. Ana penyendiri atau lebih tertarik keliling sekolah dengan hanya berjalan saat jam istirahat. Sedang teman-teman lain menganggapnya aneh dan enggan untuk sekadar ngobrol. Saat Ana duduk di bangku kelas tiga SD, ada seorang siswa dengan seragam berbeda, memperkenalkan diri di depan kelas, dia adalah Candra, siswa pindahan.

Tulisan tangan Candra sangat rapi, kukunya juga bersih, hal itu membuat Ana terus memperhatikannya. Candra berusaha mengakrabi teman-teman di kelasnya. Tak bertepuk sebelah tangan, Candra merasa mendapatkan kawan baru. Setiap hari ada saja teman yang menghampirinya di kelas, cerita ke sana kemari, berujung minta tolong pada Candra untuk mengerjakan PR mereka. Dengan polosnya Candra bersedia, menganggap itu adalah tolong menolong antar teman. Ana hanya tersenyum sinis melihat wajah bodoh Candra. Hampir semua siswa berjalan kaki saat pulang, karena rata-rata rumah mereka tak seberapa jauh, pun juga Ana dan Candra.

“An. Hari ini aku akan ke rumah Putra,” Candra bersemangat memulai pembicaraan.
“Untuk apa kamu ke sana? Kalau dilemparin cicak lagi bagaimana? aku gak mau ikut ke sana!” terang Ana sambil berjalan.
“Putra gak akan seperti itu lagi, dia sudah janji.”
“Aku gak percaya!” Ana mempercepat langkah kakinya.
***

Terdengar suara tangisan lirih dari arah rumah tua. Pembangunan rumah tersebut belum sepenuhnya selesai, dan telah menjadi rumah tua yang angker. Ana makin mendekat, setelah mengetahui sumber suara, dia berlari mencari sesuatu. Dugaan Ana benar, Putra kembali menjahili Candra. Saat Ana mendekati Candra yang entah bagaimana caranya sudah berada di atap teras, Putra buru-buru lari bersama dua teman lain yang belum sempat Ana lihat.

“Kamu bisa turun pakai tangga kan?”
“Aku takut, ini tinggi sekali.” Suara Candra sesenggukan karena menangis.
“Diam di situ!” Ana pun turut naik ke atap teras.

Candra turun perlahan, tentu saja dengan pengawasan dan motivasi dari Ana, hingga berhasil sampai bawah.

“Pulang sana!” Candra dan Ana berhasil turun dari atap teras rumah tua itu.
“Makasih, An.”
Ana tidak menjawab dan menghambur pergi begitu saja. Candra yang masih tersedu-sedu menuntun sepedanya untuk pulang, tanpa memedulikan sikap dingin Ana.
***

“Uang kontrakan sudah ditagih, kemarin uang saku Candra juga sedikit, untung saja Candra penurut,” teriak seorang wanita.
PLAAAK!, sebuah tamparan mendarat di pipi wanita itu yang tak lain adalah Ibu Candra “Diam kamu!” teriak Ayah Candra.
“Selama ini kita sudah pindah kontrakan entah berapa kali. Ayah juga kerjaannya gak pasti, Candra butuh biaya sekolah, Yah!”
“Gak bisa jadi penenang, bisanya nuntut trus. Sudahlah, terserah hidup kalian mau dibawa kemana.”

Candra hanya bisa menangis di pojok ruang tamu rumah kontrakan sederhana itu. Menutup telinga rapat-rapat, dengan seragam merah putih yang masih lekat. Dia tak mengeluarkan satu kalimat pun selain suara tangisan yang makin menjadi. Entah berapa kali keluarga kecil Candra pindah rumah kontrakan karena himpitan ekonomi. Rumah warisan dari Ayah Candra direbut oleh adik ayahnya. Menjadi permasalahan yang klasik, terkait harta warisan tanpa memedulikan jasad di bawah tanah yang masih utuh dan belum menyatu dengan tanah.

Sementara di luar sana, harta yang ditinggalkan justru jadi perdebatan, Ayah Candra memilih mengalah dan hidup berpindah. Candra pun harus survive tiap kali pindah sekolah, mendapat teman baru dan lingkungan baru. Ada teman terbaik yang selalu ditinggalkan setiap Candra pindah sekolah, ada kenangan yang tak lupa ia torehkan, ada piala bukti prestasi yang ia juga tinggalkan di sekolah lama. Pun juga saat akhirnya Candra bertemu dengan Ana. Ana hanya siswi korban bully karena keluarganya yang teramat miskin, bisa makan sekali dalam sehari bagi Ana sudah cukup. Tak setiap hari di meja makan tersaji nasi dan lauk, ada sambal dan nasi saja sudah cukup membuat Ana menghabiskan satu piring nasi.

Candaan teman-teman sekelas tentang ekonomi Ana yang miris membuatnya menangis. Tangisan Ana bukan menjadi pemandangan yang membuat iba, justru menjadi bahan ejekan teman-temannya. Seragam Ana memang tak seputih seragam teman lain, kaos kaki yang dilingkari karet gelang serta sepatu hitam yang disemir menggunakan minyak goreng membuat Ana tersingkir dari kelasnya. Kadang saat upacara hari senin dia merasa kepanasan, minyak goreng yang selalu dioles pada sepasang sepatu, rasanya membuat kaki Ana seperti kaki goreng. Setiap hari dibully membuat kesabaran Ana kian menipis, makin tipis dan habis, terganti oleh amarah serta sikap menutup diri. Sudah lama Ana ingin pindah SD, sayangnya hanya di SD tersebut ibunya bisa mencicil SPP. Sedangkan di SD lain harus dibayar kontan. Keuntungan penjual sayur di pasar terasa berat untuk membayar SPP, meski sudah rela tiap malam tidak mendapat jatah tidur namun hanya beberapa rupiah saja keuntungannya. Ana tahu betul hal tersebut dan memutuskan bertahan di SD yang terus membuatnya menutup diri.
***

“Turun mana Mbak?” seorang kondektur menagih ongkos bus jurusan Merak, mengagetkan gadis berusia seperempat abad yang sedang melamun menatap kaca bus.
“O iya, saya turun Tangerang Pak,” lalu si gadis menyodorkan sejumlah uang dan kembali menatap jauh ke luar kaca bus.

Pikirannya kemana-mana, sampai ada seorang penumpang yang duduk di sebelahnya, gadis itu tidak menunjukkan ekspresi. Tak lepas dari arah kaca jendela, matanya nanar seolah ada beban hidup yang ingin dia lepaskan. Hendak mengunjungi saudara di Tangerang, tiba-tiba terlintas bayangan ibunya yang tidak mau berhenti berdagang sayur di pasar. Bayangan tentang ayahnya yang renta dan menunggunya di rumah, sedangkan peruntungan ekonomi Ana berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Dia ingin pulang, memunguti sisa kenangan pahit termanis kala SD. Mengenang saat dia pernah membela seorang teman tertindas, sayangnya teman itu lantas meninggalkannya tanpa pamit khusus. Hingga usianya kini, gadis itu masih lekat dengan wajah teduh Candra. Siswa pindahan di SDnya dulu yang gemetar kala ada cicak, jijik dengan kecoa, dan takut tikus, dan korban bully sepanjang kelas berlangsung.

Dua tahun setelah dia pindah ke SD Ana, lantas dia pindah SD lagi. Ana, gadis dewasa yang duduk diam di dekat kaca bus jurusan Merak tersebut, sudah tidak sekali pun bertemu dengan Candra. Saat Ana duduk di bangku SMP, pernah sekali mendatangi rumah kontrakan kedua orang tua Candra, namun tidak ada petunjuk keberadaannya. Pemilik kontrakan juga tidak mengetahui keluarga Candra tinggal di mana setelah keluar dari kontrakan itu.

Pernah pula saat masih di sekolah yang sama, Ana mendapati Candra tak mau pulang, dengan alasan takut melihat orang tuanya bertengkar. Ana juga tak bisa apa-apa selain diam di kursi kelasnya hingga tangis Candra berhenti dan dia mau diajak pulang. Sebelum Candra resmi pindah dari SD, Ana menangis pelan sambil menundukan kepala. Dari arah belakang kelas, Putra terlihat cekikikan kecil. Seumur hidup Ana dan Candra sekelas, baru kali itu Ana melihat keberanian Candra membelanya. Jam kelas belum dimulai, Candra mendatangi Putra dengan wajah merah marah.

“Kau apakan Ana?”
“Dia coret-coret bukuku, ngatain ibuku tukang sayur!” teriak Ana masih berderai air mata.

Tak banyak bicara, tangan Candra mengepal seperti akan memukul Putra. Semua yang ada di kelas tersebut tercengang, baru pertama kali melihat Candra semarah itu. Wajah Candra kaku, memerah dan ototnya sedikit terlihat, Putra meringkuk pasrah, menutup wajahnya dengan kedua tangan, khawatir akan dipukul. Beberapa detik sempat hening, lalu Candra menarik tangan Putra dan menggandengnya ke arah Ana.

“Minta maaflah pada Ana, kalian kan teman sekelas. Di hari terakhirku berada di kelas ini, aku tak ingin melihat ada yang saling membenci, saling mengejek bahkan saling adu pukul!” mendadak wajah seram Candra menjadi teduh seperti biasanya.

Ana kembali menangis menundukan kepala, Putra masih gemetar ketakutan dan mematung di samping Ana dan Candra. Tangan Candra pun masih menggandeng tangan Putra, lalu Candra menarik tangan kanan Ana. Mengusap air mata Ana dan menyodorkan kedua tangan mereka agar saling berjabat bukti saling memaafkan.

“Maaf!” suara Putra terdengar kecil, khas anak usia SD.
“Maaf Mbak! Permisi!” ucap seorang penumpang lain bus jurusan Merak tersebut pada Ana. “Maaf Mbak! permisi! saya mau ambil kardus yang ada di bawah kursi Mbak,” ucap seorang penumpang laki-laki.

Ana baru merespon, mengalihkan pandangan dari kaca bus dan membantu laki-laki tersebut mengeluarkan kardus di bawah kursi yang Ana duduki. Laki-laki bertopi dengan kaos biru polos, terlihat lakunya yang lembut wajahnya tak begitu terlihat oleh Ana. Saat laki-laki itu sedikit mengangkat wajahnya, Ana melihat keteduhan. Terlebih kala penumpang laki-laki tersebut melempar senyum padanya. Ana tersipu dan terdiam, bayangannya langsung mengarah pada teman masa kecilnya, Candra.

Sayangnya penumpang laki-laki tersebut pergi tergesa dengan membawa kardus, turun dari bus arah Merak. Suara Ana tertahan di tenggorokan, hendak memanggil penumpang laki-laki yang hampir setengah jam berada di sampingnya tanpa ia sapa sedikit pun. Andai Ana tidak larut dalam lamunan masa lalu dan melihat apa yang sedang ada di hadapannya. Besar kemungkinan dia akan mendapat kesempatan bertemu Candra lagi. Rindu yang dia genggam bertahun-tahun membuatnya tidak bisa menatap ke depan dengan benar.

“Can……!” Ana tidak meneruskan teriakannya saat berlari ke arah bibir pintu bus, seketika bus pun kembali melaju.

Berjalan malas ke arah kursi yang semula ia duduki. Ana duduk dengan wajah datar dan tatapan kosong ke luar kaca. Baginya, biarlah selamanya Candra menjadi bangku kosong. Baik di kelas terlebih di dalam hatinya yang sudah membeku. Membiarkan bus melaju menuju Merak, menebas angin dan membawa lamunan Ana makin jauh dan semakin menjauh.

Sekian.

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Fiksi

  • sketsa rahwana ramayana sketsa rahwana ramayana

    Fiksi

    Sang Pecinta Sejati Itu Bernama Rahwana

    By

    Rahwana adalah tokoh yang digambarkan antagonis dalam cerita pewayangan Ramayana. Penggambaran sebagai tokoh antagonis ini jelas...

  • Fiksi

    Luka yang Tercecer Di Jalan

    By

    Sudah tiga minggu kuoleskan salep penyamar bekas luka ini di lenganku. Sepertinya aku menyayatkan pisau itu...

  • Fiksi

    Rukmana

    By

    Sejak kejadian itu, Rukmana seperti jasad yang kehilangan sukma. Bagai mayat tanpa kata dan ekspresi, sesekali...

  • Fiksi

    Rondo Kuning

    By

    Aku hanya menghela nafas panjang, setiap hari aku hanya bisa menjadi pengecut kala menaruh harapan selangit...

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top