Connect with us

Banten, Identitas Yang Bikin Cemburu

Batik Baduy-Banten Motif Tapak Kebo

Budaya

Banten, Identitas Yang Bikin Cemburu

Di situ saya merasa sangat cemburu, betapapun Banten mempunyai identitas yang melekat kuat pada selembar kain. Hanya dengan mengenakan kain tersebut satu warga Banten akan bisa mengenali sedulur Banten lainnya.

Siang itu di depan Masjid Gede Jogjakarta saya dan Aeny menunggu Nafi, kami memang berpencar sebelumnya. Panas menyengat, menutup kepala dengan slayer yang selalu saya bawa.

“Mbak, dari Banten ya?” tiba-tiba ada orang lewat dan nyeletuk demikian. Spontan saya tersenyum padanya lalu membuang pandangan ke Aeny, sejenak kami saling tatap lalu Aeny tertawa kecil. Aeny sahabat saya asli dari Serang, Banten, dia sengaja ke Jogja untuk mengunjungi saya. Mungkin yang membuat orang lewat tadi tiba-tiba melempar pertanyaan demikian kepada saya karena saya mengenakan slayer Baduy, Banten. Iya, slayer khas suku Baduy yang dijadikan identitas provinsi Banten. Dulu waktu saya berkunjung ke Serang, Banten, juga melihat banyak sekali warga sana yang mengenakan slayer tersebut. Entah untuk penutup hidung saat berkendara atau untuk ikat kepala, macam-macam kegunaannya, yang mengenakan baju batik juga banyak. Warna biru tua dan motif Tapak Kebo yang paling khas seakan sudah melekat bahwa kain itu adalah identitas Banten.

November lalu saya bergabung menjadi anggota Forum Lingkar Pena Banten. Acara diadakan di kota Bandung, saat pembukaan semua peserta diwajibkan mengenakan pakaian daerah masing-masing. Saya dan teman-teman lain (sesama anggota FLP Banten) seragam mengenakan batik Banten berwarna biru tua. Sebenarnya ada beberapa pilihan warna lain seperti putih, hijau dan emas namun yang paling khas adalah warna biru tua.

Mengenakan seragam Batik Khas Banten di acara Munas FLP.

Pernah pula di suatu waktu, saya mengenakan slayer tersebut sebagai penutup hidung saat dibonceng ojek online, saya turun di kafe Basabasi Jogjakarta. Kemudian ada pengunjung kafe yang mengenakan baju batik Baduy, Banten juga. Motif dan warna serupa dengan slayer yang saya kenakan yaitu motif Tapak Kebo warna biru Tua. Kemudian pengunjung tersebut melempar senyum kepada saya dan pandangannya mengarah ke slayer yang saya kenakan. Seakan-akan pengunjung tersebut menemukan sedulur Banten. Di situ saya merasa sangat cemburu, betapapun Banten mempunyai identitas yang melekat kuat pada selembar kain. Hanya dengan mengenakan kain tersebut satu warga Banten akan bisa mengenali sedulur Banten lainnya. Kain tersebut merupakan kain khas suku Baduy yang ada di Lebak, Banten. Tidak ada informasi yang pasti, kapan batik itu pertama digunakan dan menjadi identitas . Ada banyak motif, yang tiap motifnya mengandung sebuah filosofi sendiri bagi warga Baduy. Namun motif khas tetap motif Tapak Kebo yang digunakan suku Baduy Luar sebagai ikat kepala.

Suku yang masih terjaga kelestarian adat budayanya. Terbagi menjadi dua, yakni suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam tidak mengenakan batik, hanya mengenakan pakaian hitam putih polos, dan mengenakan ikat kepala putih polos untuk kaun laki-laki. Sedangkan Baduy Luar lebih bebas dalam berpakaian. Untuk kaum laki-laki mengenakan ikat kepala biru tua motif Tapak Kebo. Jadi kain batik yang dijadikan identitas Banten berawal dari suku Baduy Luar dan masih terjaga hingga kini. Selanjutnya tiap saya ditanya orang yang mengetahui identitas Banten karena slayer yang saya kenakan “Mbak, orang Banten ya?” dengan cemburu bercampur bahagia akan saya jawab “muhun, Pak/Bu/Teh/Kang” yang berarti mengiyakan. Apa salahnya mengakui tanah air sendiri, toh kekayaan identitas ini milik kita bersama, warga Negara Indonesia. Dan saya dengan senang hati dituduh sebagai warga Banten, hehe piece.

Di Kafe Basabasi Yogyakarta

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Budaya

To Top