Connect with us

Bencana Alam vs Momen Pergantian Akhir Tahun

Banjir di Waruktengah Kwadungan (Sep. 2016). Foto-KampoengNgawi

Opini

Bencana Alam vs Momen Pergantian Akhir Tahun

Sejatinya, seiring bergantinya tahun, kita mempunyai dua hal terkait usia kita yaitu semakin berkurangnya jatah usia dan semakin bertambahnya tangga usia. Semakin berkurangnya jatah usia kita, harapannya kita juga semakin dekat denganNya.

Mungkin sudah terlewat beberapa hari. Seperti pergantian tahun – tahun masehi biasanya. Tak ada yang spesial menurutku. Suara kembang api yang bergantian tak kunjung henti dalam hitungan menit itu juga masih semarak memeriahkan momen pergantian tahun. Aroma jagung bakar yang dahulu sempat memikatku untuk ikut serta meramaikan momen pergantian tahun masehi ini juga masih terbayang. Namun, hanya aromanya saja yang memikatku, bukan suasananya.

Jujur saya sendiri masih bingung mengaitkan jagung bakar dengan tahun baru, mengapa bukan ketela bakar atau bakso bakar. Kala itu saya masih masa puber yang mungkin penasaran seperti apa ramainya malam pergantian tahun di luar sana. Ada kawan – kawanku yang dengan kawan – kawannya atau bahkan mereka sekeluarga keluar rumah pada momen itu. Lain halnya denganku, sejak dulu cukup berdiam diri di rumah sama saja seperti malam lainnya. Dengan kebiasaan demikian, akhirnya semakin dewasa saya berprinsip untuk tetap demikian. Walaupun pernah ada undangan atau ajakan, rasanya niat ini masih memenangkan untuk tetap di rumah atau di kos saja kala itu.

Begitupun tahun ini. Kebetulan saya masih terjaga saat jarum jam tepat menunjukkan pukul 24.00 atau 00.00 tersebut. Suara kembang api yang tak kunjung henti malah membuatku semakin pusing. Merayakan memang tak perlu namun bagaimanapun juga, kita tetap hidup di dunia global yang menggunakan Tahun Baru Masehi. Di sini tinggal bagaimana kita memaknai pergantian tahun tersebut. Banyak mungkin hal yang telah kita lalui dari awal tahun hingga penghujung tahun. Semua pemberianNya yaitu rizki dan ujian telah membersamai kita yang tentunya berimbas beda tergantung bagaimana seseorang menghadapinya. Rizki seharusnya menjadikan kita senantiasa bersyukur. Ujian seharusnya menjadikan kita pribadi yang semakin kuat dan tidak menurunkan iman taqwa.

Bicara tentang akhir 2017 yang berganti ke 2018 malah membuat ingatanku terbang jauh. Kala itu saya masih menggunakan seragam putih abu – abu. Bukan. Namun saat itu saya bertepatan mengenakan seragam krem keki. Saya sudah bersemangat hendak berangkat sekolah seperti hari biasanya. Namun ternyata tidak untuk hari itu dan untuk hari – hari selanjutnya Allah tidak berkehendak aku berangkat sekolah. Benar – benar tepat sepuluh tahun yang lalu di tahun 2007 menuju 2008. Saya tidak bisa sekolah selama sekitar seminggu lebih. Apakah saudara ingat? Ya, air bah yang telah menggenangi sebagian kabupaten Ngawi sepuluh tahun lalu termasuk sekolahku yang terletak di Kecamatan Geneng. Saat itu merupakan banjir terbesar sepanjang sejarahku tinggal di Ngawi. Biasanya yang terkena air bah adalah daerah rawan banjir dekat tepian sungai dan hanya kecamatan tertentu saja.

Kala itu daerah – daerah yang biasanya tidak terkena air bah ikut pula terkena imbasnya selama beberapa hari. Menurut sumber ada beberapa kecamatan saat itu yang dilanda banjir yaitu Kecamatan Kwadungan, Geneng, Paron, Widodaren, Karanganyar, Mantingan, Pitu, Pangkur, Padas, Kedunggalar dan Ngawi kota. Banyak sekolah diliburkan, banyak orang – orang mengungsi bahkan pasca itu beberapa temanku harus rawat inap karena sakit akibat musibah itu. Ada sumber yang melaporkan bahwa ada korban tewas pula. Tak luput dari itu banyak reporter TV berdatangan ke Ngawi untuk meliput berita tentang banjir yang menyebabkan tiap hari berita di layar kaca pasti tentang banjir besar di Ngawi.

Saya juga sempat survei saat itu. Daerah yang biasanya di mataku tampak lampu lalu lintas dengan padatnya kendaraan darat tiap harinya, pagi itu disulap seperti anak sungai yang bisa dinaiki perahu karet (Perempatan Terminal Lama). Begitupun jalan yang dulu sering kunaiki dengan sepeda antara jalan SMP menuju rumah temanku, saat itu juga disulap bagai telaga yang entah kedalamannya berapa meter (daerah Ketanggi).

Peristiwa sepuluh tahun silam itupun kukaitkan dengan akhir tahun 2017 kemarin. Di mana beberapa kota yang tidak biasanya terkena banjir akhirnya terkena banjir besar pula. Sebut saja beberapa kecamatan di Kabupaten Pacitan, Wonogiri, kabupaten di Yogyakarta dan Lombok serta beberapa daerah yang mungkin belum saya sebutkan. Belum lagi bencana lain seperti gunung meletus di Bali. Terakhir juga adalah gempa yang terjadi di Jawa Barat, yang saat itu aku ikut merasakan getarannya malam itu di Kota Solo. Saat itu ada kabar pula bahwa dari getarannya dimungkinkan bisa terjadi tsunami. Astaghfiirullaah. Ingatanku berputar kembali di tsunami Aceh akhir 2004 silam.

Coba mari kita pikirkan dalam – dalam. Bencana demikian murni dari alam atau bisa diartikan memang dari kuasa Allah. Namun terkadang ada beberapa yang campur tangan akibat dari ulah manusia itu sendiri misalnya banjir. Lalu kaitkan. Bencana – bencana tersebut banyak terjadi di akhir tahun. Lalu setelah itu ada pesta perayaan pergantian tahun yang mayoritas dengan hura – hura dan menghabiskan banyak biaya. Lalu apa gunanya. Saya sendiri heran. Mengapa tak jadikan momen pergantian tahun adalah untuk muhasabah.

Sejatinya, seiring bergantinya tahun, kita mempunyai dua hal terkait usia kita yaitu semakin berkurangnya jatah usia dan semakin bertambahnya tangga usia. Semakin berkurangnya jatah usia kita, harapannya kita juga semakin dekat denganNya. Kita juga perbanyak dengan mengoreksi diri untuk perbaikan ke arah yang lebih baik. Lalu dengan semakin bertambahnya tangga usia, harapannya kita semakin lebih dewasa untuk bijak berpikir. Dalam hal ini berpikir jauh ke depan bahwa pergantian tahun bukan ajang untuk sekedar pesta dan bagaimana memikirkan hidup kita nanti.

Cobalah kita perbaiki, bagaimana hubungan kita dengan Sang Pencipta, bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia, tak lupa juga bagaimana hubungan kita dengan alam. Bagaimanapun juga kita sebagai manusia punya hubungan timbal balik dengan alam. Jaga hubungan baik kita agar alam tak sampai menangis bahkan sampai marah besar kepada kita karena ulah kita sendiri. Mari saling mengingatkan untuk 2018 yang lebih baik. Aamiin.

Ngawi, Januari 2018

Continue Reading

Rasakan.... Setiap kejadian yang terjadi, pasti membawa hikmah...

Click to comment

More in Opini

To Top