Connect with us

Eko Triono, Menyuguhkan Model Cerita berbeda

Sumber Gambar : Twitter divapress01

Buku

Eko Triono, Menyuguhkan Model Cerita berbeda

Judul cerpen yang sekaligus dijadikan sebagai judul buku Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini Eko menyihir para pembaca untuk memikirkan apapun yang ia tulis.

Keluar dari zona “Aman” Eko mencoba menyuguhkan model cerita yang berbeda. Sebagai salah satu buku kumpulan cerpen, hal ini tentu saja sangat beresiko. Eko menuliskan cerita tetapi bukan cerita yang kebanyakan penulis lain tulis untuk menyajikan sebuah cerpen. Mempunyai struktur dan gaya cerita berbeda atau disebut sebut sebagai cerita eksperimental.

Tentu saja hal ini banyak menjadi prbincangan dikalangan para penulis. Dengan gaya bahasa, isi cerita serta struktur yang berbeda, Eko benar-benar berekplorasi dan hal ini tercatat sebagai rekor baru dalam dunia kesusastraan Indonesia. Penulis asal Cilacap ini sepertinya mengajak para pembacanya untuk berfikir keras, dan merubah mindset para pembaca tentang cerpen yang tak semestinya namun masih apik untuk dinikmati. Ketika pembaca menanti ending yang biasnya tertebak atau tak terduga, dalam buku “Kamu sedang membaca tulisan ini” pembaca akan dibingungkan oleh ending yang ada atau bahkan sulit dibilang bahwa itu sudah menjadi ending. Judul cerita terakhir Tetapi lebih ke arah penekanan untuk pembaca bahwa cerita dalam buku tersebut telah usai.

Pada judul lain yang tak semestinya, terdapat pada Cerita Dalam satu Kata hanya tertulis satu kata saja, yaitu Cerita. Satu kata tersebut sudah menjadi isi sekaligus ending, mewakili judul dari cerita itu sendiri. Gaya bercerita Eko dalam Cerita Dalam Satu Kata ini hampir mirip dengan puisi yang disuguhkan beberapa penyair Indonesia seperti Sofyan R. H. Zaid dalam puisinya yang berjudul Kafir Kapital berisi “berguru kau pada burung # setelah kenyang hinggap di gunung” (Puisi Menolak Korupsi jilid 4). Namun sedikit berbeda, bila Eko menampilkan dalam satu kata, Sofyan menampilkan dalam satu kalimat. Atau lebih mirip dengan puisi Hamid Jabbar berjudul “Do’a Terakhir Seorang Musafir” yang hanya berisi satu bait, dan satu bait tersebut terdiri dari satu kata saja, amin.

Beberapa nama penyair lainnya yang sering disebut karena menyajikan puisi dengan gaya berbeda seperti puisi berjudul Tragedi Winka dan Sihka oleh Sutardji Calzoum Bachri yang hanya berisi duakata saja, yakni Kasih dan Kawin namun ditulis berulang ulang dengan cara dibalik dan dua kata tersebut membentuk sebuah pola tertentu. Model judul puisi Sutardji mirip dengan cerita Eko Atirec Malad Mukuh Kilabret pada halaman 149.

Dilihat dari judul yang lebih mirip mantra tersebut, Eko mengajak pembacanya untuk berfikir sangat keras. Isi dari cerita tersebut seluruhnya ditulis terbalik. Pembaca yang biasanya larut dalam sebuah cerpen kali ini tidak bisa dengan begitu saja mencerna isi dari cerita yang ditulis Eko secara terbalik.

Jangankan untuk mengerti isi cerita, menangkap ending saja pembaca harus konsentrasi. Jenis pembaca tentu saja berbeda beda, ada yang suka tantangan maka akan menganggap cerita tersebut adalah cerita luar dari pada biasanya atau jenis pembaca yang pada umumnya, terbiasa terbuai dengan cerpen yang penyajiannya normal normal saja. Kemudian pada judul selanjutnya Cerita Yang Mengancam Mendatar Dan Mengancam Menurun isinya lebih seperti klu teka teki silang. Tapi seperti itulah gaya bercerita Eko, bisa dibilang ia menjajal berbagai gaya untuk buku barunya ini.

Judul cerpen yang sekaligus dijadikan sebagai judul buku Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini Eko menyihir para pembaca untuk memikirkan apapun yang ia tulis. Seperti kutipan dalam cerita tersebut “Dan, tulisan ini sekarang memintamu memberikan sosok si penulis, kursi, computer dan seutas tali. Boleh tali apa saja, yang penting kuat,” seolah olah pembaca bisa menjadi apa saja dengan imajinasinya yang dituntun oleh tulisan Eko, membawa pembacanya untuk masuk dalam cerita dan si pembaca menjadi salah satu tokoh dalam cerita tersebut.

Gaya penulisan yang nylenehpun ditampilkan pada Cerita Berbingkai tentang Berita dan Derita Kita, Eko membingkai tiap kata yang ia sajikan untuk mewakili judul. Mirip seperti teka teki silang namun Eko berinovasi dengan menyuguhkan diksi yang berbobot dalam bingkai ceritanya. Memang terlihat seperti sesukanya namun bila dipahami lebih mendalam Eko mengajak pembaca merenung, tak lain halnya dengan cerita yang berjudul Cerita Dewasa. Pembaca akan dihadapkan dengan dua pilihan sebelum masuk pada cerita, layaknya mengakses konten dewasa yang dibatasi usia. Namun dua pilihan yang disuguhkan Eko sebenarnya sama, permainan kata yang membuatnya kelihatan berbeda.

Setelah masuk cerita, pembaca akan dikecewakan oleh isi cerita yang ternyata lebih ke arah penyesalan dua tokoh muda dalam cerita tersebut. Menjalani hidup layaknya pasangan namun harus membubarkan alur romantis karena ujian sekolah, pesan moral dalam cerita ini sangat terasa. Dari pada judul Cerita Dewasa sebenarnya isi cerpen dewasa lebih kental pada cerita yang berjudul Cerita Jiwa. “Ia memelukku di atas ranjang” kalimat pembuka pada Cerita Jiwa sudah menggelorakan pikiran pembaca untuk seakan akan masuk pada konten dewasa, namun Eko mematahkan pikiran tersebut pada pertengahan cerita, inilah yang dimaksud metafiksi.

Ke-25 cerita yang ditampilkan Eko pada bukunya “kamu sedang membaca Tulisan Ini” masing-masing mempunyai gaya cerita berbeda dan unik. Cerita Dalam Satu Kata lalu pada judul selanjutnya Cerita Dalam Banyak Kata seperti hanya permainan diksi namun Eko sangat mempertimbangkan tulisannya meski terlihat ngawur dan terkesan ecek-ecek. Justru tulisan seperti inilah yang kini marak jadi pembicaraan oleh penulis lainnya, seakan akan ditantang untuk memberi suguhan cerita berbeda seperti apa yang Eko lakukan. Cerita Dalam Ulangan Harian Kita cerita yang disajikan layaknya soal ujian yang dilengkapi dengan pilihan ganda namun antara soal satu dengan soal lainnya dapat disusun sebagai kesatuan cerita yang utuh.

Buku: Kamu Sedang membaca Tulisan Ini, Foto by: Friliya

Seperti apa yang dipaparkan oleh Anton Kurnia pada kata pengantar buku ini sesungguhnya bisa dibaca juga sebagai novel eksperimental sebab satu cerita dengan cerita lainnya saling berkelindan secara tematis meski bisa dibaca sendiri-sendiri sebagai cerpen. Dalam kata pengantarnya Anton Kurnia juga menggeret sederet nama penulis seperti Gerges Perec, Julio Cortazar, Italo Calvino, Cile Alejandro Zambra dan Raymond yang sebelumnya pernah melakukan apa yang Eko lakukan saat ini yakni bereksperimen dengan gaya serta isi tulisan. Terlepas dari itu semua pembacalah yang akan menentukan nasib dari sebuah buku. Karena buku lahir untuk pembaca dan untuk dibaca bukan untuk bungkus kacang rebus atau bungkus nasi kucing semata.

Diresensi oleh Friliya, Klub buku Basabasi.


Judul : Kamu Sedang membaca Tulisan Ini
Penulis : Eko Triono
Penerbit : Basabasi
Terbit : Desember 2017
Tebal : 220 halaman
ISBN : 978-602- 6651-67- 9

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

3 Comments

More in Buku

To Top