Connect with us
Saya dan Umi di Taman Sari. Dok. Friliya

Liburan

Jogja Lagi

Jam tangan menunjukkan pukul 22.30 WIB, Umi memesan mobil online menuju kos Ainun, teman sejak SMA hingga kuliah. Iya, saya dan Umi memutuskan menginap di tempat Ainun. Kami sempat kesasar kurang lebih 3 km dari tempat tujuan.

Entah berapa kali ke Jogja tapi dari setiap kunjungan, selalu ada cerita yang berbeda. Beberapa bulan lalu saya mendaftarkan diri menjadi anggota klub buku. Setiap anggota akan diberi satu buku dan wajib mengulas buku tersebut. Penerbit yang cukup ternama di Jogja mewadahi passion para penikmat buku. Klub buku Basabasi, nama komunitas yang saya ikuti. Namun di tiap pertemuannya, saya dan para anggota lain bukan hanya sekadar basa basi saja. Ada pembicaraan tentang buku dan lain sebagainya, ada ilmu terselip di tiap pertemuan.

Untuk bulan ini, saya ke Jogja tidak sendirian seperti biasanya. Umi, teman dari Surabaya yang juga hobby membaca buku tapi belum sempat mendaftarkan diri sebagai anggota klub. Dia ingin ke Jogja, dan tentu saja dengan senang hati saya mengikutsertakannya dalam forum diskusi. Dua yang lain adalah Mbak Nina dan suaminya, Bang Samsuar. Mereka selalu berbicara menggunakan bahasa Melayu. Orang Indonesia yang lama tinggal di Malaysia, saat ini mereka tinggal di Caruban, Madiun.

Meeting Point di rumah orang tua saya, tepatnya di Desa Kedungprahu, Padas, Ngawi. Umi baru saja tiba di Ngawi. Dia bekerja sebagai staff finance di salah satu perusahaan di Surabaya. Sengaja pulang kampung ke Ngawi untuk selanjutnya ikut agenda klub buku di Jogja bersama saya. Mbak Nina dan Bang Samsuar naik motor dari Caruban, sedangkan Umi naik bus dari rumahnya menuju rumah kediaman orang tua saya. Sabtu jam 08.00 WIB kami berkumpul, ingin rasanya membuat pertemuan itu lebih pagi lagi. Tapi rasa hati tak tega kepada Umi yang baru saja tiba dari Surabaya. Kami berempat naik motor menuju terminal Ngawi, kami menitipkan motor di penitipan dekat terminal.

Mengabaikan beberapa bus menuju Jogja yang lewat, karena penuh. Baru memutuskan naik di bus ke tiga. Mbak Nina dan suami ingin ke beberapa destinasi wisata iconic di Jogja dan Magelang. Bulan madu ala backpacker kalau kata saya. Candi Prambanan, pantai Parangtritis, dan candi Borobudur adalah tempat tujuan pasangan suami istri yang selalu berbahasa Melayu tesebut. Sedangkan saya dan Umi punya tempat tujuan berbeda, iya kami memang berpisah selama di Jogja.

Agenda klub buku basabasi, bedah buku. Dok. Pribadi

Bus yang kami naiki cukup penuh, untung saja masih dapat jatah tempat duduk. Kurang lebih empat jam naik bus menuju candi Prambanan. Sebelum kami berempat memasuki area candi, kami memutuskan untuk menunaikan shalat dhuhur di masjid seberang candi. Mbak Nina dan Bang Samsuar mengaku belum pernah ke candi Prambanan, akhirnya saya dan Umi memutuskan untuk mengantar mereka sampai pintu masuk candi. Karena saya dan Umi ada agenda diskusi buku di kafe Basabasi, kami pamit di depan pintu masuk candi. Untuk perjalanan pasutri tersebut, selanjutnya saya pantau melalui whatsapp. Memastikan mereka berdua sampai tujuan tanpa kesasar.

Saya dan Umi menyempatkan berkeliling pasar Prambanan. Semua barang di pasar tersebut dijual sangat murah. Saya mendapatkan dua souvenir cantik seharga Rp. 25.000,- tanpa harus melalui proses tawar menawar yang lama. Umi terlihat bingung ingin membeli sesuatu, dia hanya mengatakan ingin makan karena lapar. Saya tidak merekomendasikan untuk makan di sekitar area candi. Kami keluar area candi dan makan bakso di pinggir jalan. Sambil terus memperhatikan jam, nafsu makan saya mulai hilang. Acara diskusi akan dimulai sekitar satu jam lagi, kami buru-buru berjalan menuju halte Prambanan, berjalan kaki sekitar 500 meter. Kami naik bus trans Jogja 1A menuju halte kawasan Bandara Adi Sutjipto lalu oper 3B menuju balai Banguntapan. Kafe berada di sekitar halte Banguntapan.

Transit bus yang cukup memakan waktu, dari jadwal yang seharusnya sudah berlangsung diskusi 30 menit lalu, saya baru tiba di lokasi dengan menyewa mobil online selepas turun dari bus trans Jogja di balai Banguntapan. Ternyata diskusi baru dimulai, syukurlah kami tepat waktu. Awalnya Umi kurang percaya diri untuk ikut dalam acara diskusi, saya hanya berusaha membuat dia santai. Karena memang acara klub bisa dibilang acara santai. Satu persatu dari anggota memaparkan isi buku yang didiskusikan saat itu. Sampai dipenghujung acara, ada anggota yang pulang dan ada yang tinggal untuk sekadar ngobrol di kafe.

Saya dan Umi memilih untuk tinggal, dan makan di kafe. Umi berkenalan dengan beberapa anggota klub, saya melihat rona senang di wajahnya, semoga memang demikian. Sayapun merasa beruntung dan senang bisa ngobrol dengan 3 orang perintis klub buku ini, Mas Wawan, Bang Eza dan Olive. Sayangnya Mas Eko pulang terlebih dulu, ingin ngobrol dengan beliau diluar acara diskusi. Semoga ada kesempatan di pertemuan selanjutnya. Sambil ngobrol dengan teman-teman yang masih di kafe, sembari saya memandu perjalanan Mbak Nina dan suami menuju pantai Parangtritis. Lega, saat mereka memberi kabar sudah sampai di pantai tanpa kesasar ataupun kehabisan bus umum.

Umi, saya, Bang Samsuar, dan Mbak Nina di angkringan kopi Joss. Dok. Pribadi

Jam tangan menunjukkan pukul 22.30 WIB, Umi memesan mobil online menuju kos Ainun, teman sejak SMA hingga kuliah. Iya, saya dan Umi memutuskan menginap di tempat Ainun. Kami sempat kesasar kurang lebih 3 km dari tempat tujuan. Tapi bukan menjadi masalah yang berarti, saya memutuskan untuk kembali memesan mobil dan menuju kos Ainun. Kami tiba di kos pukul 23.30 WIB. Membersihkan diri dan beristirahat, mempersiapkan tenaga untuk esok hari.

Sayangnya Ainun tidak bisa ikut bersama saya dan Umi, dia bekerja di salah satu Rumah Sakit di Jogja. Sebelum Umi saya ajak ke Taman Sari, kami memutuskan mengisi perut di warung makan dekat kos. Soto kuali, menjadi pilihan menu sarapan kami, aroma rempah-rempah yang sedap serta es jeruk yang segar, cukup untuk mengisi perut. Setelah makan, saya memesan mobil menuju halte untuk selanjutnya menuju Taman Sari. Harga tiket masuk lumayan murah, cukup dengan Rp. 5000,- sudah bisa menikmati bangunan bekas keraton tersebut. Meski saya sudah beberapa kali ke Taman Sari, tetap saja tidak hafal tempat-tempat yang wajib dikunjungi saat di Taman Sari.

Puas berkeliling dan foto-foto kami bergeser ke masjid Gedhe Kauman yang berada tak jauh dari area Taman Sari, sekitar 700 meter. Saya dan Umi berjalan kaki menuju masjid. Masjid tertua di Jogja bahkan di Indonesia ini sudah pernah diangkat ke layar lebar karena memang mengandung nilai sejarah. Peristiwa penting yang membuat masjid ini difilmkan salah satunya saat KH Ahmad Dahlan membetulkan arah kiblat yang mempunyai selisih kemiringan 23˚. Hingga saat ini tidak ada renovasi untuk menyesuaikan arah kiblat, hanya saja karpet yang sekaligus menjadi sajadah dibuat miring menyesuaikan arah kiblat yang disarankan KH Ahmad Dahlan termasuk tempat imam. Ukiran kayu serta bangunan yang masih terasa khas tempo dulu membuat kami betah dan memutuskan beristirahat di masjid Gedhe Kauman hingga waktu ahsar tiba.

“Halo Mbak, saya kurir. Mengantarkan buku untuk Mbak Friliya.”

Telpon berdering, saya lihat Umi sedang pulas tidur. Sontak saya berlari ke area parkir untuk menemui kurir tersebut. Ternyata buku karya Ade Ubaidil, teman asal Serang, Banten. Dikirim oleh Mas Wawan, buku yang saya pesan hampir satu bulan lalu. Umi terbangun, mungkin karena mendengar saya merobek kemasan plastik buku tersebut. Tak lama, adzan ashar berkumandang. Selepas sholat, kami berjalan kaki menuju Taman Pintar untuk menemui Mbak Nina dan Bang Samsuar yang tadi pagi saya arahkan ke candi Borobudur, Magelang.

Dari taman pintar kami berjalan kaki cukup jauh menuju Tugu Jogja. Mengakhiri perjalanan di Tugu Jogja, tempat iconic yang wajib saya kunjungi tiap mampir ke Jogja. Makan malam di angkringan kopi Joss sekitar tugu, saya sempat membeli bubuk kopi khas Jogja. Selepas makan, kami berempat memesan mobil menuju terminal Giwangan dan pulang.

Ngawi, 31 Januari 2018

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

1 Comment
  • Ramadhan Isnain

    Sebuah perjalanan sungguh menyenangkan… Bisa bersama sahabat lama .

More in Liburan

To Top