Connect with us

Kesederhanaan Puisi-Puisi Kedung

Dok. Pribadi

Buku

Kesederhanaan Puisi-Puisi Kedung

Judul : Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu
Penulis : Kedung Darma Romansha
Penerbit : Rumah Buku
Terbit : Februari 2018
Tebal : 68 halaman
ISBN : 978-602-6730-27-5

Banyak penyair menyuguhkan puisi tentang rindu, hujan, bulan, dan cinta namun apa yang ditampilkan Kedung tentang semua itu seakan sudah mempunyai rohnya sendiri. Kedung menampilkan puisinya secara sederhana. Seakan tidak takut bila orang-orang akan menakar pengetahuannya cetek karena menampilkan puisi proletar. Orang awan akan berpikiran bila suatu puisi ditampilkan dengan diksi morat-marit dan susah untuk dimengerti, disitulah puisi tersebut bisa dibilang keren atau berhasil. Hampir seluruh puisi di buku “Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu” yang Kedung tampilkan menggunakan diksi sederhana dan terkesan merakyat. Kedung tak serta merta dalam satu waktu atau dalam satu tarikan nafas mampu menyelesaikan puisinya. Ada beberapa puisi yang diselesaikan dalam kurun waktu cukup lama. Seperti puisi yang berjudul “Sehabis Hujan”, puisi tersebut ia selesaikan selama dua tahun, dari 2005-2007. Sangat terlihat bila Kedung benar-benar menunggu rasa agar puisi tersebut dapat ia selesaikan meski dalam tempo lama.

“Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu” merupakan sepilihan puisi, yang ia tulis sejak 2004-2017. Kurun waktu yang sangat lama untuk ukuran antologi puisi, selain puisi “Sehabis Hujan” masih banyak puisi lain yang Kedung tulis dengan tempo lama. Pada halaman 27 terdapat puisi berjudul “Magrib Menjemputku” yang ditulis selama 7 tahun, puisi “Telembuk” pada halaman 31, puisi “Ke kotamu” pada halaman 32, puisi “Di Bulan April, Aku Duduk Menatapmu” pada halaman 36, dan puisi “ Tanjung Pinang(an) pada halaman 50. Butuh meditasi cukup lama bagi Kedung untuk melahirkan sebuah puisi.

Seperti Joko Pinurbo (Jokpin) yang butuh ritual khusus untuk menuliskan sebuah puisi. Betapapun mereka menempatkan puisi sebagai karya sastra yang benar-benar diperhitungkan dan tidak buru-buru menyelesaikannya. Baris demi baris dinikmati dan didalami makna serta dipilih diksi yang benar-benar mewakili isi hati. Bukan seperti karya fiksi, terdapat sebuah kejujuran pada puisi Kedung. Seperti pada puisinya “ Tanjung Pinang(an) yang ia tujukan untuk Eka Nusa Pertiwi, gadis yang ia pinang saat itu. Diksi sederhana namun sangat mengena seperti cuplikan baris pada puisi “Barangkali Ada Yang Ingin Kau Tayakan” ini, pertemuan kita tersangkut di jalan. Tidak mengunakan diksi neko-neko namun tetap terlihat indah dan elegant untuk ukuran puisi sederhana. Kedung hanya menampilkan apa yang ia temui sehari-hari, terbukti ia tidak menampilkan puisi tentang salju dan aurora yang ia sendiri belum menemui secara langsung.

Menonjol dari diksi yang sering ia gunakan seperti, sarung, bocor, karcis kereta, seprai, kampung dan masih banyak diksi proletar yang ditampilkan. Perkara sederhanapun bisa ia tumpangi dengan diksi yang indah untuk selanjutnya ditulisnya dalam sebuah puisi. Sering menggunakan imaji basah layaknya penyair lain seperti Sapardi, namun Kedung mempunyai ciri khas sendiri untuk memaparkan imaji basahnya. Pada puisi “Hujan Oktober” dari judul yang sudah menampilkan imaji basah, Kedung berusaha mematahkan opini pembaca tentang pendeskripsian hujan lewat baris pertama puisi tersebut, hujan memeluk kampungku. Lebih bercerita tentang suasana kampung yang diguyur hujan dari pada dominan tentang imaji basah hujan, serta kebahagiaan sederhana yang ia tampilkan pada baris selanjutnya, anak-anak berlari memeluk hujan.

Boleh dikatakan puisi-puisi Kedung ini romantis, sangat romantis. Banyak puisi Kedung yang didedikasikan untuk kawan bahkan kekasihnya. Seperti pada puisi “Ke Kotamu” tertulis di bawah judul tersebut untuk kawan-kawanku yang merantau ke Jakarta. Sudah sangat jelas bila puisi tersebut ditujukan untuk mereka, Kedung mengesampingkan puisi tersebut nantinya akan dibaca atau tidak oleh kawan-kawannya, ia hanya berusaha jujur pada coretan puisinya. Namun ada juga puisinya yang ambigu, entah ditujukan pada siapa. Seperti kata “kau” pada puisi “ Kenangan Yang Bocor”, tidak jelas yang dimaksud “kau” di sini adalah siapa. Menuntut pembaca agar tidak cepat GR ataupun membuat pembaca menerka-nerka siapa “kau” dalam puisi tersebut.

Tidak menutup kemungkinan “kau” sebagai benda mati atau “kau” adalah Kedung di masa lalu, sangat banyak kemungkinan. Keseluruhan puisi Kedung berhasil memproyeksikan kenangan masa lalu. Bebas mendeskripsikan perasaannya tanpa takut kalau-kalau puisi tersebut dianggap tidak keren karena tidak menggunakan diksi yang rumit. Untuk ukuran penyair romantis, Kedung salah satunya yang berhasil menuliskan bait-bait puisi dengan romantis. Untuk imaji basah yang banyak ditampilkan, Kedung bisa menciptakan ciri khasnya yang lebih ke aliran dangdut. Terbukti ada diksi yang mampu mendeskripsikan kecenderungannya terhadap dangdut.

Sepilihan puisi pada “Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu” adalah puisi mahal. Mengingat ia menyeselaisaikan buku ini dalam kurun waktu lama, dan butuh meditasi khusus untuk memunculkan rasa pada penciptaan puisi itu sendiri.

Ngawi, 27 Pebruari 2018
Diresensi oleh Friliya Aika, Klub buku Basabasi Jogjakarta

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Buku

To Top