Connect with us

Luka yang Tercecer Di Jalan

Kereta - Pinterest

Fiksi

Luka yang Tercecer Di Jalan

Sudah tiga minggu kuoleskan salep penyamar bekas luka ini di lenganku. Sepertinya aku menyayatkan pisau itu ke tanganku terlalu dalam. Lukanya susah hilang.

Mataku sayu, separuh badanku sudah hampir tak bisa diajak berdiri. Sesekali membetulkan ransel di pundak yang mulai kendor. Kurebahkan badanku di dekat pintu keluar gerbong kereta. Mataku menelisik, memperhatikan susasana di luar kaca. Gelap, tak ada apa-apa selain laju kereta membelah angin. Sudah berapa hari kutinggalkan rumah? masihkah Ibu memaksaku menikah dengan orang yang tak kukenal?

Perjodohan demi perjodohan harus kulewati dengan getir. Aku tak percaya, mereka orang tuaku. Bahkan tak sedikitpun mengerti tentang seleraku. Apalah itu yang datang. Pernah suatu waktu aku ditanya begini “Kemarin Ibu kasihkan nomormu ke saudagar kaya di desa, namanya Norman, kamu pasti suka.” Orang macam apa yang begitu yakin anak perempuan yang baru berusia 24 tahun akan menyukai Duda usia 50an, beranak tiga pula. Catatan pertama, dia kaya. Esoknya aku kabur ke Pekalongan, ganti nomor HP dan kutinggalkan sepucuk surat untuk Ibu. Hanya adikku yang kukabari keberadaanku saat itu, dan dia juga tahu nomor baruku. Sebulan kemudian aku pulang, karena adikku mengabarkan Ibu sudah berubah, tidak akan menjodoh-jodohkan aku lagi.

Kalian tahu? perjodohan itu adalah momok paling menakutkan bagi perempuan manapun, percayalah. Namun akhirnya aku pulang, kusimpan kabar baik yang kubawa dari Pekalongan. Aku ingin memastikan, semua keadaan benar-benar stabil. Seminggu kemudian, barulah kukabarkan pada Ibu, aku mencintai laki-laki yang kutemukan di Pekalongan. Ibu antusias bertanya, kukira beliau akan senang karena akhirnya aku menetapkan pilihan pendamping hidup. Namun diujung obrolan, yang tersisa hanyalah catatan weton tidak cocok. Aku curhat pada seorang guru. Dia menawariku tiket kereta pulang pergi. Kuputuskan pergi ke Banten, tiket pulang kukembalikan padanya.

“Saya hanya butuh tiket untuk pergi, Pak?” isi chat yang kukirim pada guruku itu.

Beliau tidak membalas apa-apa, kecuali mentransfer dalam jumlah lumayan ke rekeningku. Akupun diam, tak ada ucapan terimakasih ataupun minta maaf. Aku memulai hidup di Banten dengan bekerja di sebuah warung yang menyajikan menu andalan, Pencak Bandeng. Baru tiga bulan aku di sana, adikku mengabarkan keadaan Ibu yang sakit. Aku pulang lewat stasiun Pasar Senen, Jakarta. Rumah kelihatan sangat ramai, kutelusuri sekitar, tak ada berndera kuning terpajang. Belum sempat ransel kuletakkan. Ibuku dengan sumringah dan dalam keadaan yang segar bugar memelukku. Dia memperkenalkanku pada seseorang. Jari orang itu dipenuhi cincin batu akik, di lehernya juga terdapat kalung emas, sepertinya lumayan berat. Ibu bilang, dia calon suamiku, tanpa meminta persetujuanku.

Aku tersenyum, memperkenalkan diri pada keluarga laki-laki itu, lebih tepatnya bapak tua yang jarinya dipenuhi akik itu. Kuletakkan ransel di meja utama, tanganku menelisik ke dalam ransel, mencari sesuatu. Setelah kutemukan benda yang kumaksud, lalu di depan kedua keluarga kuiris tanganku. Cucuran darah kuarahkan ke gelas teh di depan bapak tua itu, kusilakan dia minum darahku. Dan semuanya sudah terlewati seiring tetesan infus ditanganku, tetesannya melambat. Iya, aku dilarikan ke rumah sakit karena hampir mati. Di sampingku ada guruku yang lebih paham apa yang kumau, dibanding kedua orang tuaku yang hanya memaku di samping tiang infus.

“Tolong Bu!. berikan waktu untuk anak Ibu bernafas dan bebas” kata Guruku.

Lalu Ibuku kembali mengucap janji, yang palingan akan dilanggarnya lagi. Aku malas mendengar obrolan mereka dan pura-pura tidur.

Sudah tiga minggu kuoleskan salep penyamar bekas luka ini di lenganku. Sepertinya aku menyayatkan pisau itu ke tanganku terlalu dalam. Lukanya susah hilang. Di depan guruku, kedua orang tuaku menyampaikan keegoisnya. Agar kelak anak perempuannya mendapatkan pendamping laki-laki kaya. Guruku setengah murka menyampaikan apa yang aku inginkan. Lalu beliau menggandengku. Membawaku pergi dari rumah, beserta koper yang berisi barang-barangku.
***

KREEEK. Suara pintu kereta terbuka. Kaget, kereta masih lumayan kencang melaju namun ada laki-laki tanpa tangan kanan membukanya. Dia sempat menatapku tajam, aku masih cuek dan menyenderkan punggung ke dekat pintu satunya. Lalu dia membuang pandang keluar kereta. Angin masuk menerpa kami yang hanya berdua saat itu. Belum ada tanda-tanda akan ada obrolan diantara kita. Angin mengibarkan lengan kaosnya yang nampak kosong . Aku hanya menelitinya, dari atas sampai bawah. Begitu seterusnya. Dia nampak seperti prajurit TNI yang kalah perang, hingga kehilangan satu tangannya. Saat kereta berhenti sempurna, dengan cekatan, dia turun dari gerbong.

“Kenapa kau mengikutiku terus?” hardiknya saat sadar aku di belakangnya.

“Aku teringat seorang guru, yang juga berlengan satu, dia pengembara, dan merawatku selama ini.”

“Hah gak penting, sana pergi !”

“Hai namaku Yeni” kudului langkahnya, dan kusodorkan tanganku.

“Kamu meledekku karena aku tak punya tangan kanan?” lalu dengan iseng, dia menyodorkan bahu kanannya. Aku tertawa, dan menjabat lengan kaosnya yang kosong tanpa tangan.

“Namaku Alex, kamu mau kemana?” tanyanya mulai ramah.

“Aku mau ke ujung Jawa Timur”

“Gila, ngapain kamu turun? Ini masih stasiun Rogojampi, masih jauh dari Banyuwangi”

“Aku ingin berkenalan denganmu, aku hampir putus asa hidup” sambil kusodorkan bekas luka sayatan di tanganku.

“Ha..ha..ha.. kamu masih muda, cantik, fisikmu sempurna kenapa putus asa hidup? Berjalanlah, sejauh yang kamu bisa agar kamu bertahan hidup” lalu dia meninggalkanku tanpa menoleh lagi. Peluit dari petugas stasiun berbunyi. Aku melompat ke gerbong dan melanjutkan perjalananku menuju stasiun Banyuwangi. Selanjutnya aku akan naik kapal untuk menyeberang ke Bali.

“Kita akan bertemu lagi Alex, percayalah!” teriakku seiiring kereta mulai berjalan.

Kata orang, Bedugul itu indah, atau pantai Kutanya. Ada juga GWK (Garuda Wisnu Kencana) yang sudah jelas akan menjebolkan kantongku, kecuali guruku mentransferi aku uang lagi. Kalau toh rekeningku terisi, aku tidak akan konyol menghabiskannya hanya untuk berwisata disatu destinasi. Indonesia timur masih luas untuk disusuri. Persetan soal jodoh dan perjodohan. Persetan soal kabar sakitnya Ibu lagi, paling hanya akal-akalan lagi. Atau ayah yang hanya berlindung di ketiak Ibu. Biarkan lukaku tercecer di jalan, dan aku akan di jalan, mungkin selamanya.

Selesai.

Ngawi, 2 Mei 2018

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

1 Comment
  • Ilham Sadli

    aku suka jalan kisahnya.. mengalir… angkat ke sinetron nih… 😀 FTV aja

More in Fiksi

  • sketsa rahwana ramayana sketsa rahwana ramayana

    Fiksi

    Sang Pecinta Sejati Itu Bernama Rahwana

    By

    Rahwana adalah tokoh yang digambarkan antagonis dalam cerita pewayangan Ramayana. Penggambaran sebagai tokoh antagonis ini jelas...

  • Fiksi

    Rukmana

    By

    Sejak kejadian itu, Rukmana seperti jasad yang kehilangan sukma. Bagai mayat tanpa kata dan ekspresi, sesekali...

  • Fiksi

    Rondo Kuning

    By

    Aku hanya menghela nafas panjang, setiap hari aku hanya bisa menjadi pengecut kala menaruh harapan selangit...

  • Fiksi

    Bangku Kosong

    By

    Ana kembali menangis menundukan kepala, Putra masih gemetar ketakutan dan mematung di samping Ana dan Candra....

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top