Connect with us

Memaafkan Tak Sekadar Melupakan

Kehidupan

Memaafkan Tak Sekadar Melupakan

Pikirkan sekali lagi! Bahwa ketika kita memutuskan untuk membenci, justru kita yang sedang berusaha menyakiti diri kita sendiri. Selalu berdamailah dengan yang namanya hati. Karena hati kita itu ibarat kertas yang kosong. Banyak yang kan menggoresnya dengan sengaja atau tak sengaja dengan seenaknya.

“Jangan lagi kau hitung luka yang orang lain goreskan padamu. Lupakanlah. Terbangkan bersama sayap-sayap ikhlasmu. Nanti suatu hari, kepak-kepak kebahagiaan kan datang menghampirimu.”

Banyak orang hilir mudik mewarnai kehidupan kita. Ada orang yang kita benci. Ada pula orang yang kita sukai. Pun, ada orang yang membenci kita. Ada pula orang yang menyukai kita. Adalah suatu hal yang wajar terjadi dalam kehidupan manusia.

Saat kita memutuskan untuk membenci, itu sah-sah saja. Tetapi, perlu diingat! Keputusan itu justru tak mampu mendamaikan suasana hati kita yang tadinya terluka. Malah luka itu akan tambah menganga. Mengapa? Karena ketika kita memutuskan untuk membenci, justru kita yang sedang berusaha menyakiti diri kita sendiri.

Sebaliknya, di saat kita dibenci oleh orang di sekitar kita, mungkin kita telah menggores hati mereka. Jika demikian, meminta maaf adalah pilihan. Tetapi, jika orang itu yang tiba-tiba membenci kita tanpa suatu perkara, tak usah kita hiraukan. Biarlah mereka menumpahkan air tuba. Cukuplah kita balas dengan segelas susu. Bila tak bisa, yang terpenting jangan balik membenci. Karena ada kalanya benci tak perlu dirasa. Biar Allah yang atur segalanya. Demikian dengan dendam. Bahkan, jangan pernah sesekali disimpan. Sebab, cinta kita yang rasa, dendam kita yang rasa pula. Jangan biarkan ruang hati kita ada setitik dendam yang bersemayam. Jangan biarkan.

Dalam sebuah kutipan Tere Liye dalam novelnya,

“Saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri. Ketika ada orang jahat membuat kerusakan di muka bumi, misalnya, apakah Allah langsung mengirimkan petir untuk menyambar orang itu? Nyatanya tidak. Bahkan dalam beberapa kasus, orang-orang itu diberikan begitu banyak kemudahan, jalan hidupnya terbuka lebar. Kenapa Allah tidak langsung menghukumnya? Kenapa Allah menangguhkannya? Itu hak Allah. Karena keadilan Allah selalu mengambil bentuk terbaiknya, yang kita tidak selalu paham … Karena boleh jadi, saat kita membenci orang lain, kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri. (Rindu, hlm. 373)

Kita membenci orang lain karena kita membenci diri kita sendiri. Ya, begitu benang merahnya. Bahwasanya kita membenci karena kita tak kuasa mencegahnya berbuat buruk pada kita. Atau kita merasa iri atas kebaikan yang ada terhadapnya atau kesuksesan yang telah direngkuhnya? Sedangkan kita tidak bisa meraih itu semua? Dan menariknya, apakah semua orang membenci orang itu? Tidak. Lalu, mengapa kita memilih membencinya, sedangkan orang lain memilih berdamai dengan kondisi di sekelilingnya?

Pikirkan sekali lagi! Bahwa ketika kita memutuskan untuk membenci, justru kita yang sedang berusaha menyakiti diri kita sendiri. Selalu berdamailah dengan yang namanya hati. Karena hati kita itu ibarat kertas yang kosong. Banyak yang kan menggoresnya dengan sengaja atau tak sengaja dengan seenaknya.

Lantas, kita bisa membiarkan goresan itu begitu saja atau menghapusnya. Jika dibiarkan begitu saja, ia kan menjadi tumpukan goresan yang membentuk benang kusut. Susah jika ingin diuraikan kembali. Itulah sejatinya benci yang senantiasa dipupuk hingga menjadi dendam yang bersemayam dalam hati.

Jika kita ingin menghapusnya, bagaimana caranya? Caranya sederhana. Cukup dengan memaafkannya. Jika sudah, apakah bekas goresan itu hilang? Belum tentu. Tergantung sejauh apa usaha kita untuk menghapusnya. Tetapi, sekuat apa pun kita berusaha menghapusnya, goresan itu akan tetap ada bekasnya. Tak akan hilang.

Hanya satu jalan keluar agar goresan itu hilang tak berbekas. Membuka lembaran kertas yang baru. Kertas yang benar-benar kosong. Mulailah dengan hari yang baru. Jangan pernah ungkit-ungkit lagi masalah yang telah berlalu. Jangan lagi menghitung luka yang pernah orang lain goreskan pada kita. Lupakanlah.

Terbangkan bersama sayap-sayap ikhlasnya. Berharap nanti suatu hari, kepak-kepak kebahagiaan kan datang menghampiri kita.

Karena sesungguhnya, memaafkan tak sekadar melupakan, tetapi juga mengikhlaskan.

Maka, MAAFKAN, LUPAKAN, LALU IKHLASKAN!

Continue Reading

Inspiring Spirit-Tebarkanlah inspirasi selagi masih di atas bumi. Nanti, ketika badan sudah dikandung tanah, kita tak hanya meninggalkan nama yang mudah dilupa, tapi juga inspirasi yang diingat senantiasa.

2 Comments
  • Iwan

    bener mas, harus tulus ikhlas, karena itu yang terbaik.

More in Kehidupan

To Top