Connect with us

Memahami FC Barcelona sebagai Mes Que Un Club

barcelona mes que un club
image: pinterest.com

Bola

Memahami FC Barcelona sebagai Mes Que Un Club

Pada bulan November 1899, seorang imgran dari Swiss memasang iklan di sebuah koran harian spanyol yang bernama Los Deportes.  Iklan inilah yang menjadi awal mula berdirinya salah satu klub besar di dunia, yaitu Futbol Club Barcelona. Isi dari iklan tadi adalah ajakan kepada orang-orang yang memiliki minat dalam sepakbola untuk membentuk sebuah klub. Dialah Hans “Joan” Gamper, orang yang memasang iklan tersebut dan sukses mengumpulkan 12 orang termasuk dirinya yang kemudian berkumpul di sebuah tempat bernama Gymnasium de sol pada tanggal 29 di bulan yang sama.

Keduabelas orang inilah yang yang akhirnya mendirikan klub sepakbola yang diberi nama FC Barcelona. Penamaan yang sama dengan nama kota dimana lokasi klub ini didirikan adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Kota Barcelona itu sendiri. Tanggal 29 November 1899 pada akhirnya di tetapkan sebagai tanggal berdirinya klub yang menggunakan logo kota Barcelona sebagai logo klub pertamanya ini.

Penggunaan logo kota Barcelona yang bercorak bendera senyera ini membuat keterikatan tersendiri antara klub dengan warga Catalanan (sebutan untuk warga daerah Catalunya). Bendera senyera adalah simbol bagi Catalunya yang mempunyai corak garis kuning dan merah. Pada tahun 1910, logo klub kemudian diubah dan memakai logo hasil sayembara desain yang dimenangkan oleh salah seorang pemain FC Barcelona sendiri yang bernama Carles Comamala. Desain inilah yang menjadi bentuk dasar logo klub yang dipakai sampai sekarang dan hanya mengalami sedikit perubahan beberapa kali.

Sejak awal berdirinya, FC Barcelona atau biasa disingkat Barca ini sudah mencerminkan sebuah keberagaman. Walaupun klub ini berlokasi di Spanyol, akan tetapi para pemain dan manajemennya tidak hanya di isi dari spanyol saja. Sang pendiri klub (Hans Gamper) berasal dari Swiss dan presiden klub pertama (Walter Wild) adalah orang Inggris.

Di dekade awal kiprahnya, FC Bacelona berhasil menjuarai sebuah kompetisi Copa Macaya dan menyedot hampir 3.000 fans. Kepopuleran FC Barcelona di tanah Catalan ini membuat klub beberapa kali pindah stadion karena jumlah suporter yang datang selalu overload. Sebutan Cules bagi para pendukungnya juga berasal dari membludaknya anomino masyarakat pada saat itu. Cule (jamak: cules) mempunyai arti punggung atau bagian belakang.

Adalah L’Escopidora, sebuah nama stadion tingkat dua yang dipakai Barca dan mempunyai kapasitas 6.000 penonton. Namun, kepopuleran klub ternyata tidak bisa di akomodir oleh kapasitas stadion ini. Banyak supporter yang datang ke stadion memilih untuk duduk di tembok pemisah membelakangi jalan karena tidak kebagian tempat. Sehingga, terlihat deretan punggung (cules) berjejer apabila dilihat dari jalan. Sejak saat itulah, nama Cules mulai jamak dipakai sebagai sebutan untuk para pendukung FC Barcelona.

Klub yang berjuluk Blaugrana atau Azulgrana ini sempat menyabet total 29 piala sebelum akhirnya meletus perang saudara di Negara Spanyol antara tahun 1936 – 1939 . Perang ini adalah konflik antara kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco dengan kaum Republik yang dipimpin oleh Manuel Azaña. Kelompok Nasionalis terdiri atas orang-orang Katolik Roma, militer, pemilik tanah, sampai pebisnis. Sedangkan Kelompok Republik terdiri dari pekerja, buruh tani, serta kelas menengah terdidik. Pada akhirnya, perang dimenangkan kaum Nasionalis dan Franco memegang kendali pemerintahan dalam kediktatoran selama 36 tahun ke depan.

Faktor politik dan keamanan yang tidak menentu pada saat itu membuat FC Barcelona terpuruk dan jauh dari prestasi. Sebelum masa perang saudara tersebut meletus, klub pernah menyatakan keberpihakannya kepada Catalunya yang menginginkan kemerdekaan. Sikap politik inilah yang membuat klub seperti “musuh” yang harus dinetralkan bagi jenderal franco. Puncaknya adalah pembunuhan salah satu mantan presiden FC Barcelona yaitu Josep Sunyol (1935 – 1936). Walaupun banyak spekulasi atas pemicu pembunuhan tersebut, tapi sikap politik Josep Sunyol lah yang dipercaya telah mengakhiri hidupnya.

Pada saat jenderal franco berkuasa, semua klub harus menunjukkan nasionalisme-nya kepada spanyol tidak terkecuali Barca.  Efeknya adalah nama Futbol Club Barcelona (F.C.B) yang menggunakan bahasa daerah Catalan diubah menjadi Club Futbol Barcelona (C.F.B) menggunakan bahasa Spanyol. Perubahan nama kembali terjadi antara tahun 1949 – 1960 menjadi Club de Futbol Barcelona (C. de F. B). Jenderal Franco juga melarang pengibaran bendera senyera sebagai bendera Catalunya.

Jenderal Franco kemudian menaruh tangan kanannya sebagai Presiden di FC Barcelona melalui penunjukan Joan Soler (1939 – 1940) dan Enrique Pineyro (1940 – 1943). Penunjukan ini untuk membangun kembali klub yang terpuruk setelah perang saudara sekaligus untuk mengawasi lawan politiknya karena klub ini secara tidak langsung menjadi representasi kaum Republikan termasuk Catalan selama perang berlangsung.

Prestasi Barca mulai kembali menanjak pada periode 1940 – 1950an. Total 21 gelar piala yang berhasil di peroleh dalam masa tersebut. Terjadi peningkatan pesat jumlah fans yang mengakibatkan stadion pada saat itu (stadion Les Corts) tidak lagi mampu menampung jumlah supporter. Sehingga dibangunlah stadion baru dengan kapasitas yang lebih besar yang diberi nama Estadio del FC Barcelona. Stadion ini diresmikan pada tanggal 24 September 1957 yang kemudian berganti nama menjadi Camp Nou yang berarti lapangan baru.

Sayangnya, prestasi klub yang gemilang harus berhenti pada dekade 1960 – 1970. Pada masa tersebut dikuasai oleh klub dari ibu kota, yaitu Real Madrid. Rivalitas antara Barcelona dengan Real Madrid mempunyai sejarah yang panjang. Hal ini bermula karena adanya anggapan bahwa jenderal franco sebagai pemimpin diktator diduga memihak dan mendukung Real Madrid.

Sebenarnya tidak ada bukti yang benar-benar konkret tentang dukungan ini. Hanya saja ada sebuah peristiwa yang menyulut runcingnya pertikaian kedua klub ini. Kejadiannya pada leg kedua ajang Copa del Generalisimo pada tahun 1943. Barcelona kalah dari Real Madrid dengan skor yang mencolok, yaitu 1-11. Superioritas Real Madrid ini mencurigakan para Cules karena pada leg pertama Barcelona mampu unggul dengan skor cukup telak 3-0.

Kecurigaan itu berdasarkan adanya ancaman dalam kunjungan ajudan Jenderal Franco kepada para pemain dan pelatih yang diduga mengatakan bahwa mereka masih bisa bermain karena kemurahan hati sang diktator. Akibatnya, para pemain Barca terpaksa mengalah dalam pertandingan tersebut. Sekali lagi, tidak ada bukti cukup kuat yang dapat membuktikan kebenaran apa yang diucapkan sang ajudan tersebut. Sejak kejadian itu, permusuhan kedua klub ini semakin meruncing dan masih berlangsung sampai sekarang. Real Madrid dianggap mewakili ambisi dan kekuasaan sang diktator.

Di era Jendral Franco berkuasa, tepatnya tahun 1968, tercetus sebuah slogan bersejarah yang menjadi gambaran dari visi misi klub sampai sekarang, yaitu mes que un club. Slogan mes que un club yang dalam bahasa Indonesia berarti “lebih dari sebuah klub” adalah slogan yang diciptakan oleh salah seorang presiden Barcelona bernama Narcis De Carreras (1968 – 1969). Slogan ini bermakna begitu luas dan mendalam dalam perjalanan klub sampai sekarang. Slogan tersebut menggambarkan kepedulian sosial klub terhadap kehidupan masyarakat Catalan.

Dasar dari slogan mes que un club adalah buah pikiran dan semangat dari sang pendiri klub, yaitu Hans “Joan” Gamper. Buah pikiran tersebut tertuang dalam statute klub pasal 4 saat ini, bahwa tujuan sekunder klub adalah berpartisipasi dalam kegiatan sosial, budaya, seni, ilmiah atau rekreasi sebagai bentuk pelayanan kepada fans klub dan warga catalunya yang telah setia mendukung klub.

Pada tahun 1970an, presiden klub (Agusti Montal) mulai berani mengkampanyekan budaya Catalan walapun dalam tekanan jenderal franco. Dia mengembalikan lagi pemakaian bendera senyera ke dalam logo klub dan menggunakan nama klub dalam bahasa Calatan.

Pada tahun 1974, dalam sebuah pertandingan el clasico, Barca yang diperkuat oleh Johan Cruyff berhasil mengalahkan Real Madrid dengan skor telak 5-0 di Santiago Bernabeu dan tercipta istilah La Manita yang berarti tangan kecil. La Manita sendiri melambangkan Catalunya sebagai daerah yang “kecil” berhasil mengalahkan Castila. Lima jari pada tangan juga melambangkan jumlah gol yang berhasil dilesakkan jugadors FC Barcelona. Perayaan pun berlangsung besar-besaran di Calatunya.

Lalu ada 2 peristiwa penting yang menjadi sejarah di tahun berikutnya, yaitu wafatnya Jenderal Franco dan dilambaikannya kembali bendera senyera di dalam stadion Camp Nou dalam sebuah pertandingan el clasico. Pertandingan yang dimenangkan Barcelona itu juga menjadi semacam simbol bahwa klub ini berasal dari budaya Catalan dan menginginkan kemerdekaan.

Atas saran dari Johan Cruyff, klub kemudian membentuk sebuah akademi sepakbola bernama La Masia pada tahun 1979. Akademi ini yang kita tahu akan melahirkan sejarah baru bagi klub di masa mendatang. Banyak pemain hebat yang kemudian di lahirkan dari akademi ini. Prestasi klub semakin meningkat setelahnya, apalagi ditambah dengan dikontraknya Diego Armando Maradona. Barca hampir selalu meraih gelar juara selama tahun 1980an, hanya musim 1986/87 yang nirgelar.

Pengangkatan Johan Cruyff sebagai pelatih pada musim 1988/89 menjadi tonggak sejarah baru bagi permainan Blaugrana. Klub kebanggan Catalan ini akhirnya mengukir sejarah dengan memenangkan Piala Champion musim 1991/92 setelah mengalahkan klub asal Italia, Sampdoria. Pada era kepelatihan Cruyff lah Barcelona mempunyai permainan yang indah dan superior. Warisan Cruyff ini menjadi DNA permainan Barcelona yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa slogan mes que un club (lebih dari sebuah klub) menjadi nilai yang ingin dijalankan oleh FC Barcelona. Hal ini juga terekam dari sejarah sponsor yang ada di jersey klub. Sejak klub ini berdiri, jersey Blaugrana selalu bersih dari sponsor. Ada sebuah kebanggaan tersendiri karena tetap bisa kompetitif tanpa adanya sponsorship di jersey pemain.

Namun pada tanggal 7 september 2006, tradisi itu berubah atas keputusan presiden klub Joan Laporta. Manajemen klub menjalin kerjasama dengan salah satu lembaga PBB, yaitu UNICEF. Bentuk kerjasama ini terbilang unik karena justru klub yang harus menyumbang sebesar 0.7% dari pendapatannya kepada UNICEF dan memasang logo UNICEF di jersey pemain. Sedangkan UNICEF sendiri berkewajiban untuk membantu semua program klub yang berkaitan dengan anak-anak.

Program kerjasama ini sebenarnya bukan untuk mencari tambahan dana seperti klub-klub lain pada umumnya karena kondisi financial Barcelona saat itu masih cukup kuat. Justru kerjasama ini terkesan merugikan Barca itu sendiri. Hal ini sebagai wujud tanggung jawab sosial klub kepada masyarakat atau dalam istilah sekarang adalah Corporate Social Responsibility (CSR). Bahkan Barcelona menambah kerjasama lagi dengan UNESCO untuk membantu proyek terkait sepakbola junior. Program kemanusiaan ini telah membuat brand FC Barcelona menjadi sebuah klub yang peduli kepada sesama.

Pada tahun 2010, FC Barcelona kembali menjalin kerjasa sama dengan Qatar Foundation dibawah kepemimpinan Presiden Sandro Rosell. Qatar Fundation adalah sebuah lembaga di Negara Qatar yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan kemanusiaan. Namun berbeda dengan UNICEF, dalam kerjasama ini Barca mendapatkan kontrak 150 juta euro selama 5 tahun dengan tambahan 5 juta euro jika berhasil juara. Kerjasama ini menggeser posisi logo UNICEF di jersey dari dada menjadi di bawah nomer punggung pemain.

Perubahan tradisi jersey dari non sponsor menjadi CSR dan akhirnya menjadi kerjasama bisnis ini tidak lain karena tuntutan financial klub untuk menutupi besarnya nilai utang 420 juta euro pada waktu itu. Selain itu, tuntutan kompetisi juga memaksa untuk mencari dana lebih. Qatar Foundation pun berubah menjadi Qatar Airways pada tahun 2012 dengan nilai kontrak yang sama dengan sebelumnya.

Sedangkan musim 2017/2018, FC Barcelona menggandeng Rakuten yang merupakan salah satu provider internet dunia terkemuka dari Jepang dengan nilai kontrak mencapai 55 juta euro setiap tahun (memegang rekor kontrak tertinggi saat ini). Jika mampu memenangi La Liga, Blaugrana juga akan mendapat tambahan bonus 1,5 juta euro. Rakuten juga menghargai gelar Liga Champions sebesar 5 juta euro. Bila melihat angka sponsorship tersebut dan harga para pemain yang wah saat ini, rasa-rasanya kompetisi sepakbola pada akhirnya menjadi lahan bisnis besar yang tidak akan bisa lepas dari kebutuhan materi.

Akhir kata, FC Barcelona adalah sebuah fenomena. Klub yang menjadi simbol perlawanan rakyat Calatan ini telah banyak menyedot perhatian dunia dengan sejarah dan juga segala prestasinya. Misi yang dituangkan dalam pasal 4 statutanya tersebut juga menunjukkan klub ini penuh dengan solidaritas. Mempelajari sejarah, perjuangan dan semangat klub adalah salah satu cara kita untuk memahami bahwa FC Barcelona memanglah Mes Que Un Club.

*dari berbagai sumber.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

Take my hand and lets go..

Click to comment

More in Bola

To Top