Connect with us

Menagih Janji Duka Petani

Opini

Menagih Janji Duka Petani

Tampaknya petani diharamkan bahagia. Panen raya sedang berlangsung, kebijakan impor beras pun digulirkan. Sebanyak 500.000 ton beras diimpor dengan dalih memperkuat cadangan beras agar tidak terjadi gejolak harga di daerah. Kata presiden.

Sibak mundur hitungan waktu, Desember 2017 harga gabah kering giling mencapai 6.500 per kg. Beras melonjak sampai angka 12.000 per kg. Pakai kacamata petani untuk menilai, maka ini adalah sebenar-benarnya definisi panen raya. Memetik hasil dan medapatkan balasan atas jerih payah lelahnya.

Tampaknya petani diharamkan bahagia. Panen raya sedang berlangsung, kebijakan impor beras pun digulirkan. Sebanyak 500.000 ton beras diimpor dengan dalih memperkuat cadangan beras agar tidak terjadi gejolak harga di daerah. Kata presiden.

Malu? Wajar, berarti kita masih punya jiwa Indonesia. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun kita dikenal sebagai negara swasembada beras. Tidak pernah menggantungkan perut dari suapan importir beras, tetiba di tahun ini tepat di jelang panen raya kebijakan impor beras digulirkan. Petani terbunuh secara perlahan.

Itu hiperbol, terlalu melebihkan? Tidak! Singsingkan lengan baju dan celana panjangmu, tanggalkan sebentar sepatu mengkilatmu dan mari bergulat sejenak dengan lumpur darah penghidupan para petani, sawah.

Pasca pemerintah mengimpor beras harga gabah kering sawah di awal panen raya 5.700-5800 per kg. Tidak lama berselang hari, harga turun menjadi 5.000-5.300 per kg. Panen raya semakin meluas lantas permainan harga semakin menjadi 4.500 – 4.700 per kg. Petani dan dunia pasar sawah semakin ramai oleh perbincangan dan umpatan. Tingginya biaya operasional tidak sebanding dengan hasil panen yang mereka dapatkan. Di mana pupuk yang katanya bersubsidi dilangkakan dan pestisida harganya dilangitkan.

Isu juga tengah dihembuskan bahwa adanya operasi harga pasar Sergap (Serap Gabah Petani) dari pemerintah. Harga pasar ditentukan oleh pemerintah dengan standar harga maksimal 4.200 per kg. Harga tersebut ditekan agar para penjual gabah lokal mau memasukkan gabah ke bulog dengan harga 4.200 jadi pedagang lokal harus beli gabah dibawah itu akhirnya gabah melorot sampai level 3.700.

Mari kita tegaskan kembali, jika kondisi ini kita sebut sebagai upaya pembunuhan petani secara perlahan bukanlah perkara yang melebih-lebihkan. Biaya produksi yang tinggi selama masa tanam meninggalkan petani pada jerat hutang, angan yang mereka bangun hasil dari panen itulah yang akan digunakan untuk membayar hutang produksi mereka. Tapi hutang tidak terlunasi, sudah harus ditumpuk hutang produksi lagi.

Memanglah harusnya petani berdaya. Memiliki daya tawar kuat atas apa yang mereka punya. Mereka berhak menentukan nasib sendiri tanpa siksaan sistem patron-klien seperti ini. Petani sudah seharusnya memiliki kemapaman atas balasan jerih payah pengorbanan yang dilakukan, tidak diombang ambing oleh kebijakan yang tidak berperikeadilan serta permainan kasar para pemilik modal. Entah ini politik dagang, atau keberpihakan pemangku jabatan, terlalu fatalnya rantai distribusi hasil panenan, atau kurang mampunya petani menaikkan derajat berdaya mereka sendiri.

Mari kita rapatkan barisan dan kuatkan gandengan, tajamkan pikir dan keraskan suara. Mari menagih janji tuan pimpinan atas duka petani yang kita rasakan. Tuan yang berjanji akan memberikan derajat kesejahteraan. Yang memberdayakan, bukan yang menidakberdayakan, yang memakmurkan bukan memiskinkan.

Continue Reading

Berorganisasi, menjalin relasi, serta membuat narasi adalah kegiatan saya sehari - hari.

Click to comment

More in Opini

To Top