Connect with us

Mendadak Ngajar Jahit

Foto by Friliya

Edukasi

Mendadak Ngajar Jahit

“Loh mbaknya Bidan, Kok jadi jahit?” ada juga sih kalimat seperti itu yang mengarah ke saya. Jawabannya gampang, “menjahit itu gak dosa” jawaban gurauan namun sudah mewakili isi hati saya.

Beberapa hari yang lalu saya diminta memberi pelatihan jahit dompet kepada adek-adek SMP Muhammadiyah 5 Ngawi. Awalnya Bu Wati selaku waka kurikulum dan Bu Ruruh datang ke rumah untuk sekedar ngobrol, sebelum akhirnya saya diminta mengajar jahit anak didik beliau. Kaget, itu perasaan yang pertama saya rasakan, tidak begitu piawai menggunakan mesin jahit dan hanya menjahit dompet serta sling bag dengan manual lalu hasil handmade saya posting di socmed. Gak nyangka hasil karya ecek-ecek saya sampai diapresiasi seperti ini.

Waktu pertama dapat tawaran mengajar kela interpreneur berupa jahit, sempat mikir panjang sebelum akhirnya menerima tawaran bu Wati. Tentu saja banyak pertimbangan, karena saya masih merasa minder, sejauh ini hasil handmade belum saya produksi dan jual secara serius.

Karena kerap dapat tamu (teman) dari luar daerah yang menginap dan ingin tau kota Ngawi, maka saya pikir handmade sederhana berupa dompet dan sling bag yang berbahan dasar batik Ngawi lumayan kalau dijadikan souvenir untuk mereka. Atau saat saya main ke luar daerah, membagi bagikan handmade menjadi kegembiraan tersendiri bila ada yang mau menerima dan memakainya. Sambil berkarya sambil memperkenalkan batik khas Ngawi, sebenarnya itu yang mendasari niat saya belajar handmade. Terinspirasi dari salah satu home industri sling bag di sekitar Ngawi kota, namun karena harga yang ditawarkan cukup tinggi dan merasa berat untuk membeli maka saya coba-coba untuk membuatnya sendiri.

Alhamdulillah lumayan memuaskan, meski tak jarang jahitan kurang rapi, namun hal itu justru memotivasi saya untuk terus belajar. “Loh mbaknya Bidan, Kok jadi jahit?” ada juga sih kalimat seperti itu yang mengarah ke saya. Jawabannya gampang, “menjahit itu gak dosa” jawaban gurauan namun sudah mewakili isi hati saya. Apapun pekerjaannya, mengembangkan kreatifitas meski melenceng dari kerjaan aslinya itu adalah nikmat yang luar biasa. Kita jadi tidak melulu bergelut di bidang yang sama, ada bidang lain yang dapat kita kembangkan, anggap saja hiburan.

Bila ada orang lain yang senang dengan hasil handmade kita, syukur-syukur orang tersebut memakai apa yang kita buat, pastinya ada rasa gembira bukan? Seperti itu pula yang saya rasakan. Dan saya ingin membagi kegembiraan tersebut kepada adek-adek SMP Muhammadiyah 5. Tidak dapat menghitung satu per satu, saya perkirakan hampir 200 siswa yang berkumpul di masjid SMP Muhammadiyah 5 Ngawi. Mereka sudah menyiapkan bahan serta alat untuk membuat kerajinan dompet. Awalnya saya khawatir tidak diperhatikan, karena mungkin bagi mereka pelajaran menjahit adalah hal yang membosankan. Sepuluh menit pertama saya memperlihatkan hasil jadi berupa dompet dan sling bag yang sudah saya persiapkan dari rumah. Antusias mereka belum begitu terlihat, saya melanjutkan dengan langkah awal memotong bahan lalu menjahit resleting. Mereka semua mulai mengikuti apa yang saya lakukan, dan kita menjahit bersama.

Merasa hening saya coba berkeliling, ada lebih dari sepuluh kelompok, satu kelompoknya terdiri dari sekitar 13 siswa da siswi. Baik putra maupun putri, semua belajar membuat dompet, saya sendiri juga heran ada siswa putra yang mau nurut begitu saja saat gurunya meminta belajar jahit. Dan yang lebih saya heran lagi hasil jahitan para siswa putra ini tergolong rapi. Kurang lebih dua jam memandu mereka membuat dompet. Saya dibikin kewalahan saat siswa putra dan putri ini mengalami kesulitan kemudian konsultasi.

Ada beberapa siswa yang salah jahit, meski saya bongkar berkali kali, mereka tetap melanjutkan membuat dompet, luar biasa sekali semangatnya. Justru dari siswa putra yang lebih awal menyelesaikan membuat dompet, heran untuk kesekian kali, kok bisa siswa putri kalah dengan siswa putra perihal jahit menjahit.

Tidak rela saat para guru meminta dompet mereka untuk dikumpulkan, ada yang sampai berlari keluar area masjid karena ingin membawa pulang hasil karyanya. Saya sedikit terenyuh melihat kejadian itu, antara lucu dan haru. Hal ini mematahkan kalimat “saya tidak bakat jahit, atau saya tidak bakat di bidang ini itu”, semuanya dapat dipelajari bila ada niat. Bakat adalah proses latihan terus menerus yang pada akhirnya membuahkan hasil. Bahkan orang yang dari awal punya basic di bidang tertentu saja masih terus belajar untuk mengembangkan bakatnya. Melihat adek-adek SMP Muhammadiyah 5 ini, tidak malukah bila kita melontarkan kalimat “ah saya tidak bakat jahit”? jadi yuuk kita sama-sama menggali potensi diri di bidang apapun. InsyaAlloh tidak akan ada yang sia-sia dari proses belajar di berbagai bidang.

Continue Reading
Advertisement
You may also like...

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Edukasi

To Top