Connect with us

Merayakan Hijrah di Tahun Baru Hijriah

Photo from Google

Opini

Merayakan Hijrah di Tahun Baru Hijriah

Lalu, bagaimana sambutan kita terhadap tahun baru Hijriah? Sudahkah lebih berkesan dibanding sambutan kita terhadap tahun baru Masehi? Sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk Islam, sudah sepantasnya kita memaknai tahun baru Islam dengan spirit yang lebih baru.

Masih terekam dalam memori ingatan, cerita dari salah seorang teman mengenai pengalamannya di malam pergantian tahun baru 2017 silam. Kisahnya, hujan malam itu tak menyurutkan animo masyarakat untuk berbondong-bondong menuju alun-alun kota. Mereka rela berjubel dengan lautan massa demi menjadi saksi pergantian tahun yang ditandai dengan semarak kembang api.

Sudah menjadi pemandangan umum di setiap pusat kota ketika pergantian tahun tiba. Masyarakat memenuhi setiap sudutnya dengan harapan semoga tahun baru kan menjadi miliknya. Keberuntungan dan kesuksesan berpihak padanya. Pun dengan berbagai resolusi lainnya.

Lalu, bagaimana sambutan kita terhadap tahun baru Hijriah? Sudahkah lebih berkesan dibanding sambutan kita terhadap tahun baru Masehi? Sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk Islam, sudah sepantasnya kita memaknai tahun baru Islam dengan spirit yang lebih baru. Tak perlu perayaan yang bermewah-mewahan. Tak perlu juga perayaan yang menghambur-hamburkan uang. Momen tahun baru Islam cukup menjadi pengingat akan perjuangan dan pengorbanan Sang Teladan, Nabi Muhammad saw.

Perlu kita ketahui, tahun baru Islam atau tahun baru Hijriah adalah sistem penanggalan Islam yang didasarkan pada salah satu kisah bersejarah. Umar bin Khattab sebagai khalifah di masa itu tidak memilih tahun kelahiran Rasulullah sebagai awal kalender Islam. Umar juga tidak memilih tahun ketika Muhammad diutus sebagai Rasul sebagai awal kalender Islam. Umar pun tak memilih tahun ketika beliau wafat sebagai awal kalender Islam. Akan tetapi, Umar memilih peristiwa hijrah sebagai tahun pertama kalender Islam. Mengapa? Karena peristiwa hijrah adalah pemisah antara yang benar dan yang batil. Peristiwa hijrah menjadi satu fase terpenting dalam perkembangan Islam. Itu mengapa kalender Islam disebut dengan tahun Hijriah, karena didasarkan pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.

Itu berarti, sudah 1439 tahun hijriah yang lalu atau sekitar 1395 tahun masehi sudah peristiwa hijrah itu terjadi. Dari rentang waktu yang tak sebentar itu, apa yang sudah kita lakukan untuk meneruskan perjuangan Sang Nabi? Jika Nabi Muhammad berhijrah dari Mekah ke Madinah demi menyelamatkan dakwah Islam. Juga demi keselamatan para umat pengikut setianya. Lalu, kita yang juga umat beliau, apa yang bisa kita perbuat untuk memaknai tahun baru Islam ini?

Cukup satu kata kerja. Berhijrah. Apa itu berhijrah?

Hijrah adalah (1) perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah; (2) berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu; (3) perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik. Begitulah kata Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kita yang hidup di zaman serba canggih ini, rasanya tak perlu berhijrah seperti apa yang dikatakan KBBI pada poin nomor (1) dan (2). Yang perlu kita lakukan adalah berhijrah seperti apa yang tertera pada poin (3), yaitu perubahan ke arah yang lebih baik. Kita tak perlu lagi berhijrah dengan terlebih dahulu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Lagi pula, apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan kaumnya pada saat itu, mereka berhijrah tak hanya berpindah soal tempat, tetapi juga beliau berhijrah agar bisa lebih maksimal berdakwah. Mereka berhijrah agar bisa mendapatkan perubahan yang lebih baik demi kokohnya agama Islam.

Kita berhijrah cukup dengan membuat resolusi hijrah di setiap pergantian tahun Hijriah. Berhijrah untuk berubah ke arah yang lebih baik. Berhijrah untuk meninggalkan segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Berhijrah untuk tak mengulangi kesalahan yang sudah-sudah. Berhijrah untuk menjadi penggerak kebaikan di lingkungan sekitar.

Demikianlah hakikat berhijrah. Berhijrahlah untuk mendapat berkah. Lalu beristiqomahlah. Hingga kita kembali bertemu dengan Hijriah baru yang menyambut kita dengan senyumnya yang indah.

Anang Wahyudi, 1 Muharram 1439 H.

Continue Reading
Advertisement

Inspiring Spirit-Tebarkanlah inspirasi selagi masih di atas bumi. Nanti, ketika badan sudah dikandung tanah, kita tak hanya meninggalkan nama yang mudah dilupa, tapi juga inspirasi yang diingat senantiasa.

Click to comment

More in Opini

To Top