Connect with us

Ngaji Kitab Adam Ma’rifat, Danarto

Foto by Friliya

Buku

Ngaji Kitab Adam Ma’rifat, Danarto

Lalu ia menjelaskan diujung cerita bahwa perayaan pernikahan dan para penari itu tidak pernah ada. Pada cerita terakhir ini sebenarnya ada konflik yang hampir terbangun, namun lagi-lagi Danarto seakan mempermainkan pembacanya.

Menelisik sisi lain dari pembaca buku, pembaca buku popular akan berharap buku bacaannya terdapat konflik seru. Pembaca buku sastra harus lebih siap mental, menerima bacaan-bacaan yang bahkan tidak bisa dimengerti sama sekali. Atau bahkan buku tersebut tidak bisa dibaca dengan hati dan pikiran yang normal. Sebelum kumpulan cerpen Adam Ma’rifat lahir, nama Danarto sudah melejit dengan kumpulan cerpen “Godlob”. Titik tertinggi kesusastraan Indonesia bisa digenggam dengan lahirnya “Godlob”.

Danarto terus melancarkan aksinya pada buku Adam Ma’rifat. Seakan akan dia tidak peduli konflik, aturan sudut pandang, bahkan pemahaman pembaca tentang bukunya tersebut. Yang dia tahu hanyalah menulis semaunya, ngoceh sendiri. Selain hukum tanda baca yang masih bisa dikatakan taat, tak akan ditemukan sebuah ending cerita.

Terlebih bila pembaca terlalu larut dalam cerita-cerita yang disuguhkan Danarto dalam berbagai gaya versinya. Cerpen yang ditulis pada era 80an itu masih mampu mengupas habis-habisan genre cerita eksperimental di masa sekarang. Sekalipun Danarto sudah menyatu dengan tanah. Tulisan-tulisannya akan selalu muncul di permukaan. Menyatukan paham sufisme dengan kesusastraan Indonesia, Danarto edan-edanan menulis semua cerita di Adam Ma’rifat. Seperti yang telah dipaparkan oleh Mahfud Ikhwan “jika terlalu asyik, masyuk, mabuk, apalagi sampai kerasukan dengan apa yang disajikan Danarto dalam keenam cerpennya. Anda tidak akan bisa menyelesaikan buku ini”.

Tak perlu terlalu serius membaca buku Danarto, atau pembaca akan merasa tersesat, sangat tersesat.
Danarto yang memang terlahir pada masa penjajahan setengah merdeka, memiliki pemahaman kejawen yang kental. Langsung melompat pada cerpen keenam, Bedoyo Robot Membelot. Cerita ini seolah olah mempermainkan dimensi. Bercerita tentang perayaan pernikahan dengan hiburan tarian Jawa, karena Danarto menyebut-nyebut “Sampur” (selendang yang digunakan para penari Jawa).

Lalu ia menjelaskan diujung cerita bahwa perayaan pernikahan dan para penari itu tidak pernah ada. Pada cerita terakhir ini sebenarnya ada konflik yang hampir terbangun, namun lagi-lagi Danarto seakan mempermainkan pembacanya.

Cerita pertama “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” bercerita tentang makhluk fana yang akan menangkap tokoh utama. Cerita pertama masih sulit diselami, atau kita sepakat dengan pernyataan Mahfud Ikhwan agar tidak terlalu asyik dengan cerita. Khawatir akan kerasukan ocehan Danarto yang berakibat pembaca tidak akan pernah tuntas membaca buku tersebut. Toh tidak ada konflik yang bisa dijaring dari cerita pertama. Ada kutipan yang mungkin jadi favorit banyak pembaca “Akulah Jibril, yang angin adalah aku, yang embun adalah aku, yang asap adalah aku, yang gemerisik adalah aku, yang menghantarkan panas dan dingin” _halaman 16.

Cerita kedua yang sekaligus menjadi judul kumpulan cerpen, “Adam Ma’rifat”. Disinilah Danarto mulai bermain dengan gejala sufisme dalam sastra Indonesia. Bisa dianalogikan seperti ngaji kitab suci, membacanya saja tanpa membaca terjemahan, maka si pembaca tidak akan mengerti apa-apa. Dan sepertinya kajian “Adam Ma’rifat” ini memerlukan kitab terjemahan, agar pembaca tidak melulu stres dengan suguhan cerita Danarto. Pada halaman 28-30 Danarto menyebut kata tanah hingga 413 kali (kalau tak salah hitung). Kenapa harus angka 413? Kenapa tidak lainnya? mungkin ini yang dimaksud Mahfud Ikhwan, pembaca yang kerasukan. Bisa jadi Danarto tidak menghitung jumlah kata itu, hanya menulis semaunya. Bisa jadi ada filosofi dibalik angka tersebut, yang sangat tidak penting diketahui kecuali pembaca menuntaskan bacaannya.

Tugas pembaca hanyalah membaca dengan kegilaan yang diciptakan sendiri, sama halnya dengan kegilaan tulisan Danarto di “Adam Ma’rifat. Bahkan pada halaman 53, cerita keempat. Judulpun tidak bisa dibaca. Seperti tangga nada atau bar, di atas dan bawah terdapat kata cak dan ngung. Bahkan mesin ketikpun akan menyerah menuliskan judul tersebut, ya judul tersebut ditulis dengan tulisan tangan. Bila pembaca sudah geram dari judul, lebih baik tidak perlu membaca isinya, atau pembaca akan lebih emosi lagi. Sekali lagi Danarto hanya ngoceh semaunya, tak perlu pembaca menuntut konflik atau minimal alur cerita rapi. Bahkan typo sekalipun akan tersamar, antara typo atau tanda baca eksperimental sulit diketahui. Tulisan Danarto laiknya perempuan, tidak boleh disalahkan.

Pola pikir yang cukup mengesankan pada cerita keempat ini, seolah menyimpan misteri yang entah siapa nanti yang mampu memecahkannya. Tulisan yang dibentuk menyerupai pola matahari, atau titik titik tak beraturan ia letakan penuh pada halaman 58. Filosofi yang belum terterbak, ia tuangkan pada cerita keempat. Pembaca pun akan dibuat semakin tenggelam dengan apa yang Danarto pikirkan. Keseluruhan cerita yang ditampilkan Danarto tak jauh-jauh dari Tuhan, selalu berkaitan. “Lahirnya Sebuah Kota Suci” juga turut andil melahirkan sosok Tuhan versi Danarto. Kumpulan cerpen “Adam Ma’rifat”_Danarto juga disandingkan dengan “Telegram”_Putu Wijaya, “O”_Amuk, “Kapak”_Sutardji Calzoum Bachri yang sama-sama memporak porandakan kesusastraan Indonesia.

Abaikan bentuk-bentuk cerita aneh yang disajikan. Di sisi lain toh Danarto yang masih sering disebut-sebut dalam dunia kesusastraan Indonesia. bahkan saat kabar kematiannyapun, buku-buku Danarto masih banyak diburu dan dibaca. Danarto selalu hidup dalam tulisan-tulisan anehnya, dan ocehannya pun masih disimak banyak orang.

Judul : Adam Ma’rifat
Penulis : Danarto
Penerbit : Basabasi
Terbit : November 2017
Tebal : 112 halaman
ISBN : 978-602-6651-11-2

Ngawi, 20 Mei 2018

Diresensi oleh Friliya, Klub buku Basabasi Yogyakarta

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Buku

To Top