Connect with us

Pukul Berapa Tiba Di Semarang (2)

Liburan

Pukul Berapa Tiba Di Semarang (2)

Masih sebelas jam lagi dari jadwal kereta yang saya pesan, tertulis tanggal 24 Juli 2017 pukul 00.05 WIB. Dari Sam Poo Kong saya bergeser ke Kota Lama Semarang, makan siang dan istirahat di mushola sekitar sana.

Malam Puisi di Semarang

Sejak 2007 sudah diasuh oleh guru besar saya Kusprihyanto Namma, beliau adalah seorang sastrawan. Sejak saat itu pula saya banyak dipengaruhi oleh dunia kesusastraan. Sebenarnya bukan niat mendekat pada puisi, namun seakan puisi tersebut yang mendekat. Beliau selalu menyarankan agar sregep mendatangi pementasan teater, monolog, puisi serta menyimak bila diskusi berlangsung. Karena beliau selalu berpesan, diskusi tersebut yang membuat hati serta pikiran terbuka, dan seperti mendapat paksaan untuk terus membaca agar ilmu bertambah.

Pak Putu

Sekitar tahun 2009 beliau memberi saya dua buku, kumpulan novelet “Rembulan Putih” karya Budi Sardjono dan Novel “Lewat Tengah Malam” yang sudah difilmkan karya Ibnu Adam Aviciena dan Gol A Gong. 2011 berkesempatan bertemu Gol A Gong di Ngawi, dalam acara pelatihan menulis novel. Seusai acara saya menawarkan diri mengantar Gol A Gong ke rumah guru besar saya Pak Kusprihyanto Namma.

Dan saat ada kesempatan ke Semarang, rasanya tidak ingin saya siakan. Kebetulan jadwal saya ke Semarang berbarengan dengan jadwal malam puisi di kedai kopi ABG, Semarang. Acara tersebut diisi oleh Gol A Gong beserta keluarga besarnya yang sedang tur literasi keliling pulau Jawa. Saya bukan tipe orang yang gemar memberi kabar, lebih sering datang seenaknya namun pamit saat pulang. Beberapa waktu lalu rombongan tur literasi Gol A Gong juga saya datangi di kota Jombang, tentu saja tanpa berkabar sebelumnya. Dan hal itu juga saya ulangi di Semarang, Tya yang saya temui tadi siang, bersedia mengantar ke tempat acara.

Dia juga tertarik dengan acara tersebut katanya. Saya memulai obrolan terkait acara tersebut di kota lama Semarang, terletak di jalan Letjen Suprapto No. 32. Kita menyempatkan singgah ke kota lama, selepas dari Sam Poo Kong. Kawasan kota yang tidak seperti berada di Indonesia kalau kata saya. Bangunan khas Eropa seperti Gereja Blenduk, Gedung Marba, bahkan bangunan Indomaret pun bergaya khas Eropa. Ada kios yang menjual barang-barang antik, berjejer rapi di kawasan kota lama, saya hanya melihat-lihat dan mengambil gambar.

Urut dari kanan, Tya, Gabriel, Bu Tias, Azka. Yang bertopi Pak Gong, Pak Ardie Tyastama, yang pakai kopyah Pak Putu, saya, Odie, kaos putih Pak Arwani dan sebelahnya lagi Danang

Kami pulang ke kos Tya untuk bersiap ke acara puisi di kedai ABG. “Semarang dingin, jangan lupa pakai jaket” kata Tya saat kami akan berangkat ke kedai. Menggunakan google maps, kurang lebih 30 menit melewati dinginnya jalanan Semarang akhirnya kami sampai di lokasi acara.

“Loh Friliya, kamu kok bisa ada di sini?” pertanyaan dari Pak Gong yang membuat saya puas, hehe. Ternyata acara belum dimulai, saya mengenalkan Tya pada Pak Gong. Di kedai kopi ABG, saya juga bertemu Pak Ardie Tyastama atau Pak Supardi Kafha. Sebelumnya pernah bertemu beliau di UNS Solo dalam acara pelatihan menulis “Dari Novel ke Film” oleh Gol A Gong 2014 lalu. Dan ternyata kami kembali bertemu di sini, saya menyapa Pak Ardie lebih dulu, ternyata beliau pun masih mengingat saya.

Malam puisi dibuka oleh Danang selaku MC, Pak Gong memberi materi dan membaca puisi. Beliau juga meminta seluruh yang hadir di kedai kopi ABG untuk membaca puisi, termasuk saya dan Tya. Belum puas, Pak Gong juga meminta saya berduet puisi dengan Danang, sepertinya beliau ingin balas dendam karena kehadiran saya yang mengejutkan. Di ujung acara kami menyempatkan berfoto bersama di depan kedai kopi ABG lalu Pak Gong sekeluarga pamit pulang. Saya dan Tya masih tinggal untuk sekadar ngobrol, saya mendekati Pak Putu atau Pak Gunawan Budi Santoso. Kami saling berkenalan, Pak Putu banyak memberikan motivasi menulis, dan tanpa diduga Pak Putu hendak bagi-bagi buku beliau.

“Kereta Mbak Frliya besok kan ya? Bukan malam ini?” tanya Pak Putu terburu-buru. Beliau meminta saya, Tya dan satu muridnya untuk menunggu di kedai, karena beliau hendak pulang mengambil buku yang selanjutnya diberikan kepada kami. Masing-masing diberi dua buku, “Nyanyian Penggali Kubur” dan “Penjaga Itu Telah Mati.” Tertulis di buku tersebut “Liya, salam dari kedai kopi ABG. Semarang 23 Juli 2017, nuhun Pak Putu. Setelah Ngobrol cukup lama dengan beliau, saya dan Tya pamit pulang. Esok hari tanggal 24 Juli 2017 pagi, pamit berpisah dengan Tya. Saya kembali ke Sam Poo Kong karena belum puas ambil gambar, Tya ada acara pengajian. Dan sampai sekarang saya belum bertemu dengan Tya lagi. Sebelum masuk Sam Poo Kong, saya membeli Mie Kopyok khas Semarang di warung depan Klenteng. Entah kenapa namaya Mie Kopyok padahal lebih dominan lontong dari pada minya.

Masih sebelas jam lagi dari jadwal kereta yang saya pesan, tertulis tanggal 24 Juli 2017 pukul 00.05 WIB. Dari Sam Poo Kong saya bergeser ke Kota Lama Semarang, makan siang dan istirahat di mushola sekitar sana. Hari mulai sore, saya menyetop ojek online, karena belum mempunyai aplikasi, minta antar ke Pantai Marina. Senja di Pantai Marina sangatlah indah meski saya sendirian namun tak mengurangi keindahan senjanya. Saya sempatkan berpuisi dan pacaran dengan ombak yang tak begitu lepas. Tidak ada pasir di sana, namun ada tiadanya pasir Marina tetap mempesona. Kawasan Pantai Marina ditutup pukul 18.30 WIB, beruntung saya bertemu dengan ojek online yang kebetulan mengantar makanan, saya nebeng keluar dari kawasan pantai.

“Mau diantar kemana, Mbak?”

Sedikit bingung menjawab pertanyaan itu, cukup lama terdiam, akhirnya saya minta diantar ke kawasan simpang lima. Banyak sekali ojek online yang mangkal, membuat sedikit lebih lega. Sebelum ke lapangan Simpang Lima, saya membersihkan diri dan sholat di masjid yang tak jauh dari lapangan. Niat ingin merebahkan diri sejenak, namun saya ditegur ta’mir masjid, masjid mau ditutup katanya, karena sudah lewat jam isya’ padahal masih pukul 21.00 WIB. Akhirnya saya menyeberang menuju lapangan, di situ barulah saya bisa merem sejenak. Belum ada lima belas menit saya tidur, ada anak muda yang menawari saya minuman yang ia produksi. Awalnya saya senyum-senyum kagum dengan semangat interpreneurnya lama-lama terkesan memaksa agar membeli minuman yang ia jual. Saya lelah ingin kembali beristirahat, namun anak muda itu tak juga pergi akhirnya satu kalimat yang membuatnya pergi, “saya bonek” dan dia pergi tanpa pamit. Lumayan nyenyak tidur, alarm HP berbunyi, saya terbangun dan beranjak pergi ke stasiun naik ojek.

“Maaf Mbak, tiketnya hangus, harusnya Mbak ke sini tadi malam” kata petugas stasiun, saya teringat pertanyaan Pak Putu sebelum beliau pulang untuk mengambil buku, pertanyaan itu seperti teguran bagi saya. Tak ingin larut dalam kesedihan, coba cari jalan keluar dengan membeli tiket Go Show, beruntung saya masih kebagian satu kursi. Kereta berangkat tak lama setelah saya menukar tiket dengan uang. Dan malam puisi di Semarang akan selalu terkenang, salam Semarang, salam Kedai Kopi ABG.

Ngawi, 27 Pebruari 2018

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Liburan

To Top