Connect with us

Pukul Berapa Tiba di Semarang?

Liburan

Pukul Berapa Tiba di Semarang?

Memang kereta arah Semarang dari stasiun Tugu sudah penuh, tapi saya coba alternatif lain. Akhirnya kami mendapatkan kereta, tapi harus ke Solo dulu. Meski Jogja-Solo dekat, tapi saya tetap enggan untuk naik bus, karena dibayang-bayangi rasa mual.

“Semua kereta menuju Semarang penuh, Mbak!” terang salah satu petugas stasiun Tugu Jogjakarta. Sebelumnya saya dan ponakan saya, Nafi disarankan pihak hotel tempat kami menginap untuk naik travel saja. Tapi saya sudah mabuk berat, meski sering jalan-jalan belum tentu menjamin saya betah lama-lama di kendaraan. Kereta adalah salah satu alternatif kendaraan yang bisa sedikit meringankan rasa mual yang selalu saya alami. Kami harus Ke Jepara, Jogja, Semarang dalam 3 hari karena ada keperluan. Berasal dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah membuat Nafi mungkin terasa asing berada di Jawa Tengah. Saya diminta menemani ke beberapa kota yang dia butuhkan.

Memang kereta arah Semarang dari stasiun Tugu sudah penuh, tapi saya coba alternatif lain. Akhirnya kami mendapatkan kereta, tapi harus ke Solo dulu. Meski Jogja-Solo dekat, tapi saya tetap enggan untuk naik bus, karena dibayang-bayangi rasa mual. Untung saja ada kereta antar kota Jogja-Solo dengan harga murah, meski tidak menjamin tempat duduk, tak apalah yang penting tidak naik bus.

Saya dan Nafi

Jadwal kereta dari stasiun Jebres pukul 18.30 WIB. Sayangnya kereta yang kami tumpangi dari Jogjakarta tidak turun di stasiun tersebut. Sampai di Solo pukul 18.00 WIB sedangkan kami masih harus oper kendaraan untuk menuju stasiun Jebres. Karena pesan mobil online selalu tidak berhasil entah karena apa, waktu yang singkat tersebut kami gunakan untuk naik becak. Becak berjalan sangat lambat, telpon genggam berdering, kami harus turun secepatnya dari becak untuk cek in. kewalahan menenteng banyak tas dan bingung membuka dompet untuk bayar becak, di sisi lain Nafi harus mengangkat telpon dari orang tuanya. Setelah bayar becak saya mengajak Nafi untuk lari menuju pintu masuk stasiun karena becak tidak menurunkan kami sampai depan pintu masuk.

Sepuluh menit lagi kereta tiba, sedangkan kami masih kewalahan tak keruan. Dengan sangat terpaksa, Nafi hanya menjawab singkat telponnya. Tujuan utama saya adalah bandara Ahmad Yani, Semarang, mengantarkan Nafi terbang ke daerah asalnya, Kalimantan Tengah. Dengan nafas yang iramanya tak stabil, saya menyodorkan tiket kereta Brantas ke petugas stasiun.

“Silakan ditunggu! kereta sebentar lagi datang, Mbak.”

“Astaga Fi, rasanya pengen nyebur di kolam” kata saya yang langsung merebahkan diri di kursi tunggu. Belum puas mengambil nafas, kereta sudah datang. Dan benar-benar lega rasanya tidak ketinggalan kereta untuk kesekian kalinya. Kami terpisah gerbong karena mendapat jatah kursi sisa, tak apalah setidaknya masih bisa naik kereta. Apa jadinya bila kami naik bus atau elf, mungkin saya sudah pingsan karena mabuk kendaraan. Kurang lebih tiga jam kami berada di kereta, dan untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun Tawang, Semarang. Terdengar ucapan selamat datang khas stasiun dari pengeras suara. Perasaan yang pertama kali muncul saat saya menginjakkan kaki di stasiun Tawang ini adalah takjub. Ya, saya seperti kembali ke masa lampau, semua bangunan masih mempertahankan model bangunan lawas. Kami tiba di Semarang pukul 21.10 WIB, sebelumnya saya sudah boking hotel di sekitar bandara Ahmad Yani. Langsung saja kami menuju hotel dengan menggunakan taxi, dan barulah kami bisa istirahat.

Di Samphoo Kong

“Semarang, huah akhirnya” gumam Nafi yang sepertinya juga kelelahan. Traveling terselubung kalau kata saya. Foto-foto perjalanan yang saya share di social media sering menimbulkan kontra, banyak judge yang membuat perasaan saya tak keruan. Sebagian besar perjalanan yang saya lalui karena ada keperluan seperti ini. Kalau toh dapat foto kece di destinasi tertentu, anggap saja itu bonus. Kalau memang tidak ada keperluan dan saya kebetulan bisa jalan, ya itu rejeki. Tuhan masih mengijinkan saya melihat keindahan negeri ini, bukankah hal itu menyenangkan? Hehe

Setelah gulung gulung tidak jelas karena kasur yang terlalu lebar, akhirnya saya memutuskan untuk ke Indomaret. Sekalian saja saya memesan tiket pulang ke Paron, Ngawi. Saya mendapatkan jadwal kereta pukul 00.05 WIB besok, itu artinya masih sekitar dua hari saya di Semarang. Sudah mengantongi tiket pulang, saya menyempatkan jalan-jalan di sekitaran hotel, untuk beradaptasi dengan Semarang yang masih asing, jam tangan menunjukkan 00.30 WIB. Puas menghirup udara malam, saya kembali ke kamar dan tidur. Esok harinya kami langsung cek out dan sarapan di warung sekitaran hotel, harganya lumayan terjangkau. Selepas sarapan saya mengantarkan Nafi menuju Bandara Ahmad Yani, dan kami berpisah di Bandara.

Pitaloka salah satu sahabat saya yang kini berada di Taiwan, menyarankan agar nanti malam saya menginap di tempat Tya, sahabatnya. Dari bandara bergeser ke destinasi impian saya dulu, klenteng Sam Poo Kong. Harga tiket masuk hari biasa hanya Rp. 5.000,- namun karena saat itu ada pertunjukkan Barongsai, harga tiket naik Rp. 2.000,-. Saya dan Tya bertemu di Sam Poo Kong, kami baru berkenalan di sana. Akhirnya kami menonton pertunjukkan Barongsai, untuk perjalanan keliling Semarang selanjutnya, saya ditemani Tya. Saya harap tulisan ini masih bersambung…..

Continue Reading
Advertisement

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Liburan

To Top