Connect with us

Resign Demi Sebuah Perjalanan

Photo by Friliya

Kehidupan

Resign Demi Sebuah Perjalanan

Melupakan tangis karena meninggalkan pekerjaan impian, yakni kerja di TV, saya mencoba menerima kenyataan. Terus memegang tiket sebagai motivasi, jadwal penerbangan saya memang masih jam 12.00 WIB namun sudah sejak pagi saya mondar mandir di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Perhelatan akbar panggung sastra di Eka Kapti malam ini membuat saya tak ingin berdiam diri di rumah saja. Penyair dan sastrawan se-Jatim tengah berkumpul di sana. Sayapun bersiap, merapikan diri untuk berangkat ke gedung, namun apalah daya bila restu tak dikantongi. Sedih pasti, tapi dari pada semakin larut dalam sedih, saya ingin berbagi cerita saja. Tiga tahun lalu, tepatnya 17 Oktober 2014 adalah perjalanan pertama saya menggunakan pesawat. Entah bagaimana rasanya, hanya coba menyiapkan mental dengan mengingat saat menaiki wahana kincir di pasar malam.

Resign demi sebuah perjalanan, iya itu yang saya lakukan saat itu. Banyak orang yang menyayangkan hal tersebut, pasalnya saat itu saya bekerja di salah satu TV swasta di Jawa Timur yang lumayan ternama. Kurang lebih satu tahun saya bekerja sebagai salah satu marketing iklan di TV swasta tersebut, dan satu-satunya marketing wanita di sana. Namun mau dikata apa, tekat saya berkenalan dengan pulau Borneo sudah menggebu-gebu. Ini kesempatan saya mewujudkan mimpi berkeliling Indonesia, meski saya rasa belum banyak yang disinggahi namun hanya bisa berusaha optimis.

Bandar Udara Iskandar – Photo From Google

Mengorbankan pekerjaan yang mentereng, saya hanya menghela nafas panjang dan meyakinkan tekad. Karena saya juga tidak diijinkan cuti lebih dari seminggu, maka keputusan terakhir adalah resign. Dua bulan saya menyiapkan diri untuk resign. Tidak bisa serta merta resign begitu saja, sayapun harus bertanggung jawab dengan tayangan iklan yang saat itu saya garap. Belum masalah kontrak, uang dan perjanjian lainnya.

Kadang saya memaksa meeting dengan klien selama itu bisa saya lakukan, karena tiket pesawat menuju Borneo sudah di tangan. Tertekan, itu pasti segala keputusan memang selalu ada resiko yang harus dipertanggung jawabkan. Alhamdulillah awal Oktober sudah ada titik terang, satu persatu tanggungan iklan rampung saya garap bersama tim. Yang agak berat adalah mencairkan dana kontrak iklan, saya memang kurang berbakat dalam hal keuangan, namun mengingat tiket sudah di tangan, saya beranikan menagih biaya iklan kepada klien.

Berat hati menyodorkan surat resign kepada manager marketing, saya tak mampu pamit dengan benar hanya air mata mewakili kalimat yang tak mampu terucap.

“Kenapa Nduk?”
“Saya pengen ke Kalimantan Pak, tapi gak cukup satu minggu” kalimat saya sedikit terbata dengan suara parau menahan tangis.

Percakapan saya kepada bapak manager itulah menjadi percakapan terakhir saya sebagai karyawan di JTV Madiun dan selanjutnya saya berkeliling kantor untuk pamit. Banyak do’a dan harapan baik dari teman-teman kantor kepada saya, meski belum lama bekerja di sana, namun entah berapa terima kasih yang ingin saya ucapkan kepada mereka semua terutama manager terbaik saya bapak Rusdi yang banyak mengajari ilmu tentang marketing, serta bapak Tri (Asisten manager) yang banyak memberi saya motivasi. Meski baru awal bulan, ternyata pak Rusdi memberikan gaji penuh bulan oktober dan memberi pesangon begitupun dengan pak Tri. Sampai detik ini saya merasa, merekalah atasan terbaik, meski entah berapa kali saya pindah kerja, sampai detik ini belum menemukan atasan sebaik mereka, terima kasih pak.

Melupakan tangis karena meninggalkan pekerjaan impian, yakni kerja di TV, saya mencoba menerima kenyataan. Terus memegang tiket sebagai motivasi, jadwal penerbangan saya memang masih jam 12.00 WIB namun sudah sejak pagi saya mondar mandir di Bandara Internasional Juanda, Surabaya.

Berkenalan dengan pesawat sejak TK dan baru di 2014 saya akan mencoba melakukan perjalanan dengan menaikinya. Sebenarnya bisa dengan naik kapal, namun mental saya benar-benar down kala mengetahui butuh 30 jam lebih naik kapal untuk sampai ke Kalimantan, langsung mengundurkan diri dari pilihan naik kapal. Saya memilih naik pesawat meski saat itu juga ada rasa takut.

Kalstar On The Air – Photo by Friliya

Dan ini perjalanan pertama saya naik pesawat, yaey (*ingin jingkrak-jingkrak tapi jaim akhirnya cuma foto). Bersama Bibi, kedua orang tua dan adik perempuan saya satu-satunya, perjalanan panjang ini dimulai. Sudah berandai ingin satu bulan di sana, tepatnya di Seruyan, Kalimantan Tengah, kediaman Bibi (kakak kandung ayah) sedang ada hajat khitanan cucu dari Bibi, dan beruntunglah saya mendapat fasilitas tiket pulang pergi pesawat gratis. Bibi dan keluarga di sana sering berkunjung ke Ngawi, namun sekalipun saya belum pernah menginjakan kaki di tanah Kalimantan.

Agak lama karena pesawat delay tapi akhirnya saya melangkahkan kaki sedikit takut memasuki pesawat. Beruntung mendapat kursi di dekat jendela dan pemandangan langsung ke arah sayap pesawat yang gagah. Seperti pada umumnya yang baru pengalaman pertama kali naik pesawat, sayapun patuh dengan intruksi mbak pramugari yang cantik. HP saya matikan, sabuk pengaman saya pasang, meski masih terlihat dikanan kiri banyak yang melanggar aturan namun saat itu saya ingin coba patuh.

Berdzikir, hal yang terlintas dalam benak saya saat pesawat lepas landas, ternyata rasanya lebih ngeri dari pada naik kincir angin. Rasanya tubuh seperti dipontang-panting sebelum pesawat benar-benar dalam kondisi stabil. Kolot? Hah biarlah, saya memang kolot dan udik namun saya bersyukur bisa menatap awan dari jendela pesawat, meski telinga rasanya sakit dan sulit mendengar. Sekitar satu jam saya berada di pesawat, perasaan kagum kembali muncul saat melihat hamparan kebun sawit hijau dari jendela pesawat.

Bismillah, akhirnya saya menginjakkan tanah Borneo, dan cerita saya di tanah Borneo baru dimulai.

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

2 Comments
  • jps_99

    seru, asyik, mantaaaps

  • Mantabz Jaya

More in Kehidupan

To Top