Connect with us

Romantisme “Gerimis Di Atas Kertas”

Buku

Romantisme “Gerimis Di Atas Kertas”

Banyak penulis yang mengangkat daerahnya lewat karya fiksi. Dengan berbagai alasan, ingin mengangkat nama daerah agar lebih dikenal, bangga tinggal di daerah yang berpotensi wisata serta alasan lain. Tulisan fiksi yang mengangkat kearifan lokal suatu daerah memang menjadi pengikat para pembaca, khususnya pembaca dari daerah yang sama. Lebih proletar dan bersahaja, kesannya. Mungkin kesan seperti itulah yang ingin ditampilkan A.S. Rosyid dalam noveletnya. Terdiri tiga cerita ringan yang menarik untuk dibaca, terlebih karena Rosyid sendiri memberi bumbu kedaerahan pada ceritanya.

Cerita pertama yang berjudul “Menunggu Ayu” mengambil seting lokasi pulau Lombok, dan hampir dari keseluruhan cerita banyak dibumbui soal Lombok. Mengingat penulisnya sendiri berasal dari sana, harusnya memang lebih menguasai tentang daerah asalnya ketimbang daerah lain. Rosyid seakan ingin menjajal menuangkan pengetahuan tentang daerah asalnya tersebut.

Terbukti pada pada paragraf pertama, sudah sangat terasa unsur kedaerahan yang coba dipadukan dengan romantisme Hasyim yang sabar menunggu Ayu. Sedikit adegan romantis tapi sangat mengena, seperti cuplikan pada halaman 70-71. Menceritakan saat Hasyim dan Ayu sudah menikah dan hendak mendatangi pernikahan Royyan, sahabat mereka.

“Mas ini lho, kerahnya ndak rapi.” Ayu cerewet. Ia selalu cerewet soal penampilan. Kubiarkan ia merapikan kerah leherku (halaman 70). Sebenarnya ini cuplikan sederhana tapi bila dibayangkan memang cukup romantis. Ada pula cuplikan saat Ayu kaget karena tiba-tiba ada anjing lewat. Ayu berkata jantungnya berdegub kencang, lalu Hasyim mendekatkan telinganya ke dada Ayu, dan Ayu mengelak.

Rosyid lihai memanfaatkan situasi sederhana menjadi candaan ringan yang mengundang pembacanya untuk baper (*bagi yang masih jomblo). Dari satu cerita, Rosyid bertamasya dengan menjajal semua point of view. Ada kalanya dia menuliskan cerita tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama. Di cerita lain dia menuliskan cerita serupa namun dengan sudut pandang orang yang berbeda, tentu saja ini berpengaruh pada isi cerita yang dibawakan.

Barangkali ini termasuk dalam point of view novelet experimental. Konflik yang ringan membuat pembaca kurang greget menyimak alur cerita. Untung saja didukung kerifan lokal daerah dan cuplikan yang bikin baper. Cerita selanjutnya “Setahun Kemudian” hanya berisi cuplikan Hasyim yang akhirnya menikah dengan Ayu dan hendak menghadiri pernikahan Royyan. Cuplikan atau beberapa halaman pada cerita ini sebenarnya bisa diringkas pada cerita sebelumnya. Karena masih bisa dijadikan satu judul.

Cerita selanjutnya yang juga dijadikan judul buku “Gerimis Di Atas Kertas” bercerita tentang Tata yang ingin belajar menulis fiksi kepada Fajar. Yang ternyata baru diketahui bahwa Fajar punya masa lalu yang menyedihkan dengan seorang wanita bernama Ulya. Ulya meninggal sebelum Fajar sempat menikahinya. Di sisi lain Tata termakan cemburu karena menemukan tulisan Fajar untuk Ulya.

Lebih dominan konflik batin dan di cerita kedua ini Rosyid tak lupa memberikan bumbu-bumbu keromantisan pula. Barulah pada cerita ketiga “Cakwe Kota Tua” lebih meminimalisir adegan romantis karena lebih menonjolkan proses sukses berbisnis. Pada cerita ketiga ini Rosyid mengajak pembaca berjelajah lebih jauh. Sedikit menyinggung soal Kudus dan Ngawi. Ada cerita pembegalan di Ngawi, memang ada beberapa titik di Ngawi yang rawan begal dan Rosyid yang notabene bukan orang Ngawi (asli dari Lombok) seakan menguasai dan mengetahui bahwa di titik itulah biasa terjadi pembegalan. Sehingga cerita yang dibawakan menjadi semakin logis, riset atau dengan cara yang entahlah Rosyid bisa mengetahui hal tersebut adalah menjadi kelebihannya tersendiri dalam membawakan cerita yang menyangkutpautkan dengan membawa nama daerah tertentu.

Bila diperhatikan keseluruhan cerita Rosyid masih saling berkaitan dengan ending yang sama yaitu berakhir di pelaminan. konflik tidak terlalu dominan namun tetap menarik untuk dibaca menjadi rangkaian cerita romantis. Terutama pada sampul, sangat menarik dengan coretan judul seperti kapur yang dituliskan pada papan tulis hitam. Mengingatkan pada cerita pertama “Menunggu Ayu” yang mengambil cerita tentang relawan yang mendirikan taman baca masyarakat (TBM). Di mana ceritanya sangat berkaitan dengan papan tulis dan kapur. Warna sampul yang juga soft, tidak dipungkiri yang jadi pertimbangan pembaca untuk membaca sebuah buku yang masih terbungkus plastik rapat adalah desain sampul. Konsep permainan plot membuat novelet ini mempunyai ciri khas. Di samping konfliknya yang lemah, novelet ini mempunyai daya tarik tersendiri. Keseluruhan cerita menarik dan recommended untuk dibaca.

Ngawi, 03 Maret 2018

 

Diresensi oleh Friliya, Klub buku Basabasi Yogyakarta

Judul                        : Gerimis Di Atas Kertas

Penulis                   : A.S. Rosyid

Penerbit                : Basabasi

Terbit                      : September 2017

Tebal                       : 200 halaman

ISBN                       : 978-602-6651-30-3

 

 

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Buku

To Top