Connect with us
Foto-Google

Fiksi

Rondo Kuning

Aku hanya menghela nafas panjang, setiap hari aku hanya bisa menjadi pengecut kala menaruh harapan selangit untuk bisa pergi ke sana. Padahal aku hanya mampu memandanginya.

“Ojo sok dolan mrono, Gus!” -jangan sekalipun main ke sana, Gus- terangku pada Bagus yang siang itu duduk di sampingku, di pinggir kali (sungai) belakang rumah.

“Aku penasaran,” jawabnya singkat.

“Gak boleh, nanti kamu hilang.”

“Aneh, tebang saja,” lanjut Bagus.

“Kebal bacok Gus, konon pohon itu tidak bisa ditebang.”

“Bisa!” Bagus ngeyel.

Lelah berenang ke sana ke mari di sungai, Deni sibuk mencari daun kering dan ranting untuk membakar biji nangka dan udang hasil tangkapannya bersama Bagus. Sedang aku dan Bagus hanya menatap pohon indah itu dari kejauhan, orang-orang di kampungku menyebutnya “Rondo Kuning”. Entah dari mana asal ceritanya, dulu ada seorang rondo atau janda berkulit kuning yang gantung diri di pohon itu, lalu beredar kabar arwah sang janda jadi penghuni pohon.

“Tapi pohon itu benar-benar bagus lo, Gus. Tumben kamu gak nakal pergi ke sana.”

“Sudah banyak,” sahut Bagus

“Apanya Gus?” mataku tetap tertuju pada pohon itu, tak sedikitpun menoleh ke arah Bagus.

“Yang melanggar aturan untuk tidak ke sana.”

Aku hanya menghela nafas panjang, setiap hari aku hanya bisa menjadi pengecut kala menaruh harapan selangit untuk bisa pergi ke sana. Padahal aku hanya mampu memandanginya. Di kala para petani bebas lalu-lalang dengan santai di jalan sempit tengah sawah pinggir pohon itu. Sedangkan aku hanya menatap dari kejauhan. Emak benar-benar melarangku ke sana. Aku merasa terkhianati, pasti di antara Bagus dan Deni atau jangan-jangan mereka berdua sudah ada yang pergi ke sana. Pohon itu memang sangat memukau, rantingnya indah, menjuntai membentuk pola seperti bonsai raksasa. Daunnya manja tertiup angin, kadang berwarna kuning kadang hijau namun tidak rontok. Mataku dapat melihat dengan jelas serat dari pohon tersebut, banyak sekali serangga mampir. Aku heran dengan warga desa ini, kenapa melarang semua anak bermain di pohon seindah itu.

Dia tidak terlalu tinggi, aku yakin bisa tidur lelap di sana, lagi pula kayunya padat dan kuat. Ditambah ada penunggunya, pastilah aku aman karena tidur siangku ada yang menjaga. Takut, aku menomorduakannya yang penting aku bisa tidur siang di tengah sawah tanpa kepanasan. Dari pada aku harus tidur di depan TV. suara-suara tak mengenakan dari para Emak sangat mengganggu tidur siangku. Membicarakan aib anaknya, menuntut terus belajar padahal aku baru saja mengganti pakaian merah putihku dan meletakkan tas sekolah serta mengistirahatkan otakku. Saat aku tidur di kebun jeruk belakang rumah, yang ada malah rantingnya patah hingga membuatku jatuh. Dan mendengar suara-suara berisik para maling jeruk sedangkan pemiliknya sedang asik bergosip. Dimataku “Rondo Kuning” itu sahabat para anak, dia membiarkan anak-anak lelap tidur di sampingnya atau membiarkan mereka menggerayangi bagian darinya. Semua bagian dari pohon itu nyaman untuk sandaran kepala, semua nyaman untuk persembunyian, dan semua nyaman untuk sandaran lelah. Tak pulang pun aku rela, masalah belajar urusan nanti, yang penting aku bahagia tanpa mendengar semua ocehan para Emak yang ngalor ngidul (kemana mana).

Mendengar para orang-orang dewasa berteriak kepada orang tuanya, berteriak kepada tetangga, saling jambak rambut hingga adu jotos. Desaku ini damai, kalau bisa mencari celahnya dan celah itu hanya sebesar lubang jarum, sangat menarik. Aku memejamkan mata, menyandarkan tubuh yang masih basah kuyup karena berenang di sungai. Suara tak mengenakan masih terdengar, langkah kaki Deni yang masih berusaha mencari ranting hampir membuyarkan damaiku, tidak seperti Bagus yang tenang di sampingku.

“Den, sekalian cabut singkong di kebunku!” tawaku kecil mengiringi.

Deni tak menjawab, hanya membanting sedikit ranting yang dia bawa lalu berjalan menuju singkong di ladangku, dekat pohon jeruk. Sebelumnya aku merasa telah bekerja keras sendiri mencari pelepah pohon pisang untuk berenang bertiga, kali ini biarlah mataku terpejam sejenak membayangkan aku tidur di atas pohon “Rondo Kuning”, toh Deni biasa cari daun dan ranting kering itu sendirian. Aku lelah, tadi Emak dan Bude jambak-jambakan saling cari kutu di kepala. Katanya kalau gak punya uang cari utang, kalau ditagih, pergi sembunyi. Emak dicari cari tukang Bank, Bude pergi sembunyi, dan Emak yang selalu menuai cacian. Aku membawa golok dan pergi cari pelepah pisang di belakang rumah, beruntung bertemu Deni dan Bagus yang sibuk cari udang untuk pesta bakar-bakar. Sontak kudorong mereka ke kali alih-alih kususul lompat sambil membawa pelepah pisang yang telah kusiapkan tadi.

***

“Es es, es liline Lek rasa orson jeruk, monggo (silakan)!” suara anak yang menjajakan dagangan es di tengah sawah.

“Es Le, sini sini,” panggil salah satu petani.

“Satu harganya berapa Le?”

“Dua ratus Lek, beli berapa?” sambil membuka termos es yang dia tenteng keliling sawah.

“Aku dua dulu saja, kalau masih haus ya nambah. Lek Lek es ini lo, istirahat dulu!” teriaknya pada petani lain.

Semua berkumpul di bawah pohon, menikmati segarnya es lilin yang membasahi tenggoran kering para petani, sekaligus teman makan ikan asin. Tole penjual es pun istirahat di bawah pohon, karena lama berjalan menyusuri sawah tanpa nemu tempat berteduh.

“Le esmu masih?” teriak salah satu petani dari kejauhan, nampak berlari dengan melambai-lambaikan capingnya, dia hampir tak memedulikan kakinya yang penuh lumpur.

“Tinggal dua Lek!” si Tole ikut berteriak.

Pak tani mempercepat langkahnya, khawatir es lilin jatahnya diserobot petani lainnya.

“Aku semua yo, Le?” masih mempercepat jalannya sembari berteriak.

“Lek aku satu!” teriak petani lainnya yang sudah berada di dekat Tole penjual es.

“Owalah ya wes nek gitu, penting aku kebagian satu,” jawab Pak tani tersebut yang akhirnya sampai di bawah pohon menemui Tole penjual es Lilin.

Semua guyup rukun di bawah pohon, Tole pun senang dagangan esnya laris, uang jajan untuk sekolah esok sudah tidak ia khawatirkan lagi.

Matahari hampir pulang, langit tinggal berwarna merah namun angin masih lumayan kencang, membuat orang-orangan sawah terlihat menggeliat.

“Ayo Pak laut (istirahat, bisa berarti ajakan pulang),” suara Pak tani yang mengajak kawan petaninya untuk pulang.

Pekerjaan bertani sangat melelahkan, tiap sore rantang yang berisi perbekalan makanan mereka selalu habis. Para petani berkumpul di bawah pohon rindang dan mengibaskan capingnya, sampai tak sadar kalau angin sudah membawa kabur keringatnya.

“Habis to Lek?”

“Habis, tapi masih ada air, atau kita cabut singkong saja!” suara lelaki itu membangkitkan semangat kawan-kawan petaninya.

“Kok belum pulang Lek? Surup (mulai gelap) loh!” sapa soerang Bu tani kepada Pak tani yang sedang istirahat di bawah pohon.

“Iya sek mau bakar singkong,” jawab Pak tani singkat.

Suasana guyup rukun jelang maghrib di bawah pohon, menikmati singkong bakar dan menyaksikan tenggelamnya matahari. Hampir semua aktivitas mulai parkir sepeda, meletakan rantang makanan, tempat istirahat dan tempat ngobrol semua di bawah pohon itu. Seperti bisa dikatakan pohon itu satu-satunya napas yang masih dipertahankan, ketika hampir semua pohon sudah ditebang untuk perluasan sawah hingga tak ada lagi tempat berteduh bagi para penggarap sawah. Pak RT sudah menyarankan pohon itu ditebang, karena si pemilik lahan hendak memperluas sawah, namun niat tersebut masih maju mundur. Mengingat si pemilik lahan kadang-kadang juga bakar singkong di situ bersama petani lainnya.

Saat petang tiba, tidak ada yang kegiatan ronda di gubuk, sawah sepi, pohon hanya pasrah ditiup angin. Seutas tali cukup kuat terdengar seperti diseret tak lepas dari tanah meski tertiup angin. Seorang wanita mengenakan daster, rambut panjang yang sedikit memutih tergerai dan tertiup angin. Sangat mudah memasang tali pada pohon tersebut karena tak terlalu tinggi, ditambah kayunya yang kokoh. Wanita yang memiliki kulit kuning langsat tersebut memasang tali pada salah satu ranting pohon. Memasrahkan lehernya pada seutas tali, mengantarkan ruhnya pada Sang Pencipta.

***

“Kowe kok ngeyel to Gus (kamu kok ngeyel to Gus)?” suara Emak si Bagus membuatku membuka mata.

Aku kaget, dari kejauhan Emaknya menjewer telinga Bagus, padahal bajunya masih setengah kering selepas main di kali bersamaku dan Deni.

“Jangan main di Rondo Kuning! huh Bocah kok ngeyel, bahaya Gus, BAHAYA!”

Aku pasrah melihat Emaknya marah-marah dan menjewer kuping Bagus serta menyeretnya pulang.

“Den?” langsung kutoleh Deni, khawatir dia hanya angin.

Deni membawa ketela pohon yang aku minta, daun serta ranting sudah lumayan banyak terkumpul, juga biji Nangka yang akan diikut sertakan dalam pesta bakar bakar.

“Bagus pancen (memang) ngeyel, lak mending (kan mendingan) bantuin aku cari daun dan ranting to?. Andaikan dia nggak ngeyel ke Rondo Kuning, pasti kita sudah makan enak,” gumam Deni.

“Bagus kapan ke Rondo Kuning?” tanyaku kaget.

“Ya habis kita mentas (keluar) dari kali, dia langsung ke sana, kamu ini juga nggak bantuin aku malah gremeng karepmu dewe (bicara seenakmu sendiri),”

“Kapan pohon itu ditebang?” suaraku parau seiiring tubuh yang gemetar.

Selesai

 

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    Rukmana

    By

    Sejak kejadian itu, Rukmana seperti jasad yang kehilangan sukma. Bagai mayat tanpa kata dan ekspresi, sesekali...

  • Fiksi

    Bangku Kosong

    By

    Ana kembali menangis menundukan kepala, Putra masih gemetar ketakutan dan mematung di samping Ana dan Candra....

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top