Connect with us
Ilustrasi Rukmana

Fiksi

Rukmana

Sejak kejadian itu, Rukmana seperti jasad yang kehilangan sukma. Bagai mayat tanpa kata dan ekspresi, sesekali ia meneteskan air mata sembari menunggui ibunya yang menyalakan api di pawon.

Desas desus dari warga, Rukmana dulunya adalah gadis cantik anak Mak Surati yang tinggal di kaki bukit. Rukmana mencari sisa makanan di tempat pembuangan sampah pasar. Penampilannya mirip orang gila, ada sebagian yang meyakini dia hanya depresi. Namun banyak yang bilang dia sudah gila.

Rukmana tinggal di pasar, ia hidup dari belas kasihan warga yang punya kesibukan di pasar. Terkadang aku berdiri cukup lama untuk menatap Rukmana, sesekali kuberi uang bila uang jajanku agak longgar. Atau kucoba ajak ngobrol dia, meski dia balas pertanyaanku dengan bahasa yang tak bisa kumengerti sama sekali. Hanya bergumam tanpa aku bisa mengartikan rangkaian kalimat yang ia suarakan.

Terkadang sepulang sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke pasar dan ngobrol dengan Rukmana. Emosinya tak stabil, kadang bicaranya halus kadang dengan nada cepat sambil matanya melotot lalu menangis. Tetap saja aku tak mengerti bahasa apa yang dia gunakan. Rasa penasaranku makin bertambah kala mendengar obrolan bapak-bapak di warung kopi, ketika ibu menyuruhku membeli gorengan di depan SD tempatku sekolah.

“Ngamuk kemarin dia, Pak,” seiring dengan suara cekikikan bapak di warung tersebut.
“Memangnya kamu apakan?” tanya yang lain.
“Saya godain dia, warga sini banyak bercerita, Rukmana dulu itu cantik, saya gak percaya.”

Aku mempercepat proses transaksi membeli gorengan lalu menghambur pulang. Geram terhadap sikap bapak-bapak di warung tadi. Anggap saja Rukmana gila, tapi setidaknya dia masih punya harga diri. Sering kutanyakan pada ibu tentang masa lalu Rukmana, tapi aku tak kunjung mendapat jawaban yang melegakan. Pun saat aku menanyakan hal itu pada Rukmana, apalagi dia yang bercerita menggunakan bahasa ciptaannya sendiri. Dari gerak tubuh dan emosi Rukmana, aku yakin dia menyimpan rahasia. Aku makin penasaran.
***

Perlahan perut Rukmana mulai membuncit. Rukmana diketahui warga adalah seorang gadis pendiam dan lugu. Sungguh sulit dipercaya bila ia akhirnya hamil di luar nikah. Selama ini pun tak terlihat ada lelaki yang dekat dengan Rukmana, ia selalu menghindar. Sehari-hari disibukkan dengan mencari ranting kering di hutan, sesekali ia juga mendapatkan kayu. Kayu-kayu itu nantinya digunakan untuk bahan bakar membuat botok. Iya, Mak Surati –ibu Rukmana memang berjualan Botok. Mak Surati sendiri yang terjun ke pasar tanpa melibatkan Rukmana, khawatir anaknya digoda banyak lelaki. Suami Mak Surati juga telah lama meninggal. Namun tak ada seorang lelakipun yang melindunginya, termasuk ayah kandung yang telah lama meninggal. Rukmana anak tunggal Mak Surati. Entah anugerah atau cobaan, ia terlahir dengan paras yang luar biasa cantik.

Biasanya belum sampai maghrib Rukmana sudah pulang membawa kayu bakar. Namun sore itu tak nampak ia pulang ke rumah, yang lebih mirip disebut gubuk itu. Mak Surati mencarinya ke hutan. Lumayan jauh ia masuk hutan. Mendapati Rukmana pingsan, menyender pada pohon dengan baju compang camping dan ada darah mengalir di kedua paha., Rukmana diperkosa. Mak Surati hanya menangis perlahan tak sampai sesenggukan. Musibah ini sudah bisa ditebak sebelumnya. Ia hanya menyesalkan seluruh alur hidupnya tanpa menyalahkan siapapun. Rukmana dituntun pulang setelah setengah sadar.

Sejak kejadian itu, Rukmana seperti jasad yang kehilangan sukma. Bagai mayat tanpa kata dan ekspresi, sesekali ia meneteskan air mata sembari menunggui ibunya yang menyalakan api di pawon. Andai bisa meminta pada Sang Pencipta, Mak Surati tidak mengharapkan paras cantik anaknya bila petaka yang akhirnya menghampiri mereka. Perut Rukmana makin membuncit, mereka diusir dari desa. Dianggap aib dan dipercaya akan menimbulkan musibah bila tetap berada di desa. Mereka tinggal di hutan, membangun sebuah gubuk kecil yang setidaknya lumayan untuk sekadar berteduh. Selanjutnya sudah tak terdengar kabar tentang kelahiran anak Rukmana, pun juga kabar kematian ibunya. Keberadaan anak beserta Mak Surati, hanya Rukmana yang tahu.

Tiba-tiba saja Rukmana muncul di pasar dengan keadaan sangat jauh berbeda. Parasnya yang cantik, sudah sangat luntur. Bicaranya tak jelas, rambutnya tinggal beberapa helai saja. Namun pakaian Rukmana masih bisa dikenali. Kembali dengan perut yang sudah rata, tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan. Namun akhirnya para warga tak ambil pusing dan membiarkannya tetap tinggal di pasar. Ibuku akhirnya menjelaskan setelah kudesak berkali-kali. Rasa penasaranku tentang Rukmana sudah memuncak, lagi pula aku akan masuk SMP. Kurasa sudah bisa disebut remaja dini dan berhak tahu cerita itu.
***

Suatu pagi Rukmana nampak ceria, dia menyapa banyak orang di pasar dengan senyum yang lebih ke arah memperlihatkan gigi ompongnya, Rukmana menua. Dia seolah olah berusaha bercerita kepada semua orang tentang kebahagiaannya saat itu. Namun tak satupun orang mengerti isi ceritanya. Rukmana mulai geram, dia ingin orang-orang tahu isi hatinya. Mulai membuat heboh seisi pasar. Berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.

Pun terlihat dia memperagakan gerakan yang sedikit bisa dipahami. Namun tak mendapat respon dari orang-orang di pasar, dia menjatuhkan diri ke tanah lalu menangis sejadi-jadinya. Makin banyak orang mengerumuninya, karena memang tak biasa Rukmana bersikap demikian. Setelah menangis, dia melanjutkan atraksinya dengan menyisir rambut yang tinggal beberapa helai itu. Orang-orang mulai tertawa melihat tingkah polah Rukmana, banyak pula yang memberinya uang.

Aku mendekati kerumunan dengan masih mengenakan seragam merah putih. Ya aku membolos karena mendengar keributan di pasar. Aku lebih tertarik menguak rahasia masa lalu Rukmana dari pada belajar tentang sejarah VOC. Rukmana menatapku nanar, aku merendah, dan Rukmana membisikan sesuatu padaku. Lalu kukabarkan pada semua orang, bahwa Rukmana ingin ayam. Seketika banyak yang menyodorkan makanan serba ayam. Mulai sate ayam, ayam penyet, hingga ayam goreng.

Rukmana menerimanya namun masih melihatku dengan wajah memelas diiringi gerakan geleng kepala. Tangannya mulai memperagakan sesuatu, semacam gaya ayam yang masih hidup. Lalu dia membuka dompetnya, menunjukan uangnya yang segepok. Rukmana terus bercerita dengan bahasa anehnya dan memperagakannya. Orang-orang tak lagi berkerumun, hanya beberapa orang yang masih peduli dengannya saja yang tetap tinggal, termasuk aku. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengartikan cerita Rukmana, setelah sekian lama. Karena hanya pada hari itu, dia nampak gusar dan terus bercerita.

“Tik tik wang, nih!” Sambil menunjukan celengan recehnya.
“Uang sedikit, jadi banyak?” Sontak aku optimis mulai bisa mengartikan maksud Rukmana.
“Hah ya!” dengan wajah makin sumringah dia terus bercetia.

Orang-orang yang penasaran tentang rahasia Rukmana mulai mendekat kembali setelah aku berhasil mengartikan satu per satu kalimatnya. Rukmana menuangkan uang receh dan seluruh uang yang ia miliki ke tanah lalu menyeroknya kembali dengan kedua tangan, sedikit tanah ikut terangkut. Dia bergegas lari membawa uang tersebut, tanpa memperhatikan banyak uangnya yang tercecer jatuh. Aku mengikuti kemana dia pergi sambil memunguti kepingan harta yang Rukmana miliki.

Ternyata Rukmana berlari ke arah penjual ayam, dia membeli ayam hidup ditemani beberapa orang yang masih mengikutinya. Meski semua melarang Rukmana membeli ayam, dia tetep kekeh ingin membeli ayam jago tersebut. Semua orang sependapat, untuk menghidupi diri sendiri saja masih sulit, apalagi Rukmana harus memelihara ayam. Setelah menyodorkan uang dan mendapatkan apa yang dia mau, barulah dia tenang dan tak lagi bercerita. Dia berjalan santai keliling pasar sambil memeluk ayam jagonya. Kebetulan si jago juga nurut saat dipeluk Rukmana.
***

Pesta pernikahan besar-besaran digelar oleh Pak Lurah. Wina anak pertamanya dipersunting oleh laki-laki cukup terpandang. Wina masih memiliki tiga adik perempuan, adik nomor dua usianya tak jauh beda dengannya namun belum menikah. Seluruh warga desa turut berbahagia karena kabarnya pesta tersebut akan digelar lebih dari tiga hari. Itu artinya untuk beberapa hari ke depan para warga akan sejahtera dengan seluruh hidangan yang tersaji. Pak Lurah terkenal bijaksana dan tak membeda-bedakan warganya, tentu saja pesta pernikahan tersebut menjadi kabar membahagiakan bagi seluruh warga desa.

Mungkin juga untuk Rukmana yang entah tercatat sebagai warga desa tersebut atau tidak. Saat akan dilaksanakan akad nikah, Rukmana datang dengan wajah sumringah sambil membawa ayam jagonya. Dia terlihat-sedikit rapi dari biasanya, sepertinya dia juga mandi sebelum datang ke acara pernikahan. Mempelai laki-laki hampir mengucapkan akad, namun warga yang hadir saat itu geger karena kehadiran Rukmana. Pak Lurah memang mengundang seluruh warga desa namun tidak untuk Rukmana, khawatir ngamuk di acara sakral anaknya. Akad nikah terjeda, seluruh mata terpusat pada kedatangan Rukmana yang mendekati Wina.

“Anakku menikah.” Baru kali itu Rukmana mengucapkan kalimat dengan jelas, sambil menyodorkan ayam yang dia bawa untuk Wina.

Semua terdiam dan mengernyit, Wina jatuh pingsan. Diketahui memang Wina adalah anak angkat Pak Lurah. Rukmana diusir dari desa untuk kedua kalinya.

Selesai

Continue Reading

#BocahTritikan Ngawi - Jawa Timur, INDONESIA

Click to comment

More in Fiksi

  • Fiksi

    Rondo Kuning

    By

    Aku hanya menghela nafas panjang, setiap hari aku hanya bisa menjadi pengecut kala menaruh harapan selangit...

  • Fiksi

    Bangku Kosong

    By

    Ana kembali menangis menundukan kepala, Putra masih gemetar ketakutan dan mematung di samping Ana dan Candra....

  • Fiksi

    F A N I S A

    By

    Aku berlarian di pasir putih ini bersama Anis dan Dendy. Arloji yang menunjukkan pukul sepuluh nyata-nyata...

  • Fiksi

    Sang Kupu-kupu

    By

    Ditengah kerumunan nampak seseorang yang terbaring, ditutup kain disekujur tubuhnya. Anak wanita paruh baya itu melepaskan...

  • Fiksi

    Coffee…

    By

    Dengan segenap tenagaku, aku bergerak dengan tubuh lemahku karena kakiku sakit untuk berjalan. Aku menghampiri sesosok...

To Top